Karyawan, Atur Keuangan di Saat Pandemi

Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Oleh: Dimas Ardhinugraha

Dampak dari merebaknya penyebaran virus corona (COVID-19) membuat sebagian perusahaan menerapkan kebijakan WFH (work from home/bekerja dari rumah). Bagi karyawan, dengan WFH tentunya ini memberikan suka duka tersendiri. Mungkin banyak yang merasa bosan karena tidak bisa jalan-jalan melakukan aktivitas di luar rumah lainnya. Tapi di sisi lain WFH juga membawa keuntungan dalam bentuk penghematan biaya transportasi dan waktu – yang biasanya dihabiskan di kemacetan perjalanan ke kantor.

Kelebihan waktu dan dana transportasi harus dikelola dengan baik, agar tidak karena iseng, Anda menghabiskan waktu dan uang untuk belanja online, misalnya – membeli barang-barang yang bukan kebutuhan utama. Pernahkah Anda berpikir, kalau pandemi ini berkepanjangan, apa yang akan terjadi dengan keuangan keluarga Anda, dan bagaimana sebaiknya mengelola penghasilan yang didapat saat ini?

Bantu orang lain yang membutuhkan

Pandemi COVID-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia ini telah merenggut nyawa dan telah menghilangkan mata pencaharian serta penghasilan sebagian masyarakat. Bagi Anda yang saat ini masih menerima penghasilan utuh, ulurkan tangan Anda untuk membantu saudara kita (tetangga/teman/kerabat/orang lain) yang kehilangan pekerjaan/penghasilan, maupun untuk tenaga medis yang berhadapan langsung dengan penanganan COVID-19. Donasikan sebagian rezeki Anda untuk membantu mereka. Berapa pun donasi Anda, akan sangat berarti bagi saudara kita dan keluarganya.

Baca :  Kasus Positif COVID-19 Bertambah 686, Sembuh 180 dan Meninggal 55 Orang

Siapkan dana darurat

Tidak ada yang tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir. Bagi karyawan yang saat ini masih memiliki pekerjaan dan menerima gaji secara utuh, manfaatkan rezeki ini dengan sebaik-baiknya. Saya sarankan untuk memprioritaskan dan sesegera mungkin mengisi penuh pos dana darurat.

Dalam kondisi normal, umumnya dana darurat disiapkan untuk menutupi biaya hidup atau pengeluaran selama 3 hingga 6 bulan. Tapi saat ini kita berada dalam kondisi yang tidak normal. Seperti saya sampaikan di awal, tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir, dan apa dampaknya bagi keuangan keluarga ke depannya. Jadi, saran saya: pertama, kurangi pengeluaran yang tidak perlu. Kedua, siapkan dana darurat untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda bersama keluarga selama 6 bulan hingga 1 tahun. Saya tahu ini terdengar sangat besar dan berat. Apalagi harus disiapkan dalam waktu singkat. Tapi perlu diingat, ini bukan kondisi normal. Jika Anda memiliki dana darurat yang cukup, Anda bisa lebih tenang dalam menghadapi segala ketidakpastian yang mungkin terjadi di depan.

Baca :  Pak Gubernur, Jangan Simpan Covid 19 di Rusunawa Penggilingan

Untuk menyiapkan dana darurat, Anda bisa memanfaatkan beberapa sumber daya. Pertama, maksimalkan dari penghasilan bulanan. Tingkatkan persentase atau porsi dari pendapatan Anda untuk mengisi dana darurat. Misalnya, jika sebelumnya Anda menyisihkan 5-10%, kali ini sisihkan 30-40% dari penghasilan untuk mengisi pos dana darurat. Catatan, angka ini hanya perumpamaan ya. Sesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Untuk menambah porsi pos dana darurat, Anda bisa mengambil dari pos transportasi, pos gaya hidup (makan di luar, nonton bioskop, liburan, kumpul bareng teman), dan lain-lain.

Kedua, manfaatkan THR. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan, diikuti hari raya Idul Fitri. Kalau Anda mendapatkan THR, alokasikan mayoritas dana THR untuk mengisi pos dana darurat. Jangan mudik dulu. Untuk stop penyebaran COVID-19, perlu kerja sama semua orang, termasuk Anda. Kalau Anda tetap #DiRumahAja, pandemi ini diharapkan tidak akan berkepanjangan. Dana untuk mudik, beli baju baru atau kue-kue lebaran bisa Anda gunakan untuk memaksimalkan isi pos dana darurat. Rayakan Lebaran secara sederhana.

Manfaatkan reksa dana pasar uang untuk menyimpan dana darurat

Baca :  DUTI Bagikan Dividen Rp555 Miliar

Simpan dana darurat di tempat yang aman, mudah dicairkan atau likuid, dan tumbuh atau memberikan potensi imbal hasil. Saya sarankan untuk menyimpan dana darurat di reksa dana pasar uang. Beberapa kelebihan reksa dana pasar uang diantaranya adalah sangat terjangkau (cukup dengan minimal Rp 10 ribu), likuid (dana yang dicairkan akan masuk ke rekening tabungan nasabah dalam waktu yang telah ditetapkan dalam prospektus), tidak ada biaya masuk dan keluar, bukan objek pajak, dan memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan atau deposito.

Sebagai gambaran, saat ini suku bunga deposito sekitar 4,5% p.a., belum dipotong beban pajak. Bunga tabungan tentunya lebih kecil daripada bunga deposito. Sementara itu, reksa dana pasar uang Manulife Dana Kas II memberikan imbal hasil sebesar 6,11% net (tidak dipotong pajak) dalam periode 1 tahun (berdasarkan kinerja produk per 7 April 2020). Enaknya juga adalah pembukaan rekening dan transaksi reksa dana saat ini juga sudah dapat dilakukan secara online tanpa harus tatap muka, jadi kita bisa tetap #DiRumahAja.

Penulis adalah Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) di Jakarta.