Kemenkeu: Tren Recovery Ekonomi RI Bakal Berlanjut Hingga 2021

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu

JAKARTA-Pemulihan perekonomian Indonesia pasca terdampak wabah Covid-19 menunjukkan perbaikan di Kuartal III-2020 dan tren recovery ini diyakini akan berlanjut hingga akhir 2020 maupun tahun depan.

Pernyataan tersebut seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu seperti dikutip di Jakarta, Senin (16/11) dalam diskusi FMB9 bertajuk “Reformasi dan Transformasi Ekonomi”.

“Kini ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara nyata. Sudah menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan belakangan ini,” ujar Febrio.

Dia menyebutkan, terdapat lima indikator yang menunjukkan bahwa perekonomian di dalam negeri mulai mengalami pemulihan, seperti tingkat konsumai rumah tangga dari minus 5,5 persen pada Kuartal II-2020 menjadi minus 4 persen per Kuartal III-2020.

Belanja pemerintah yang pada Kuartal II-2020 minus 6,9 persen kini pada Kuartal III-2020 bertumbuh positif mencapai 9,8 persen, investasi dari minus 8,6 persen menjadi minus 6,5 persen.

“Ekspor dari minus 11,7 persen kini merangkak naik sebesar 10,8 persen dan impor dari minus 17 persen menjadi minus 11,9 persen,” kata Febrio.

Dia mengungkapkan, tren perbaikan ekonomi dikarenakan adanya langkah pemerintah yang berupaya memberikan stimulus fiskal terkait pemulihan ekonomi.

“Seluruh komponen pertumbuhan berada dalam tren positif, karena didukung sepenuhnya oleh stimulus fiskal untuk pandemi Covid-19 dan program pemulihan perekonomian,” paparnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, kebijakan yang telah diterbitkan pemerintah dalam upaya penanganan dampak pandemi Covid-19, di antaranya memberikan bantuan Rp695,2 triliun.

Dari pagu anggaran yang dialokasikan pemerintah itu, saat ini telah terealisasi sebanyak Rp376,17 triliun.

Artinya, jelas Febrio, sebanyak 54,1 persen pagu anggaran yang diperuntukkan untuk pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 sudah banyak tersalurkan kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19.

Alokasi anggaran tersebut tersalurkan ke enam klaster, yakni kesehatan, perlindungan sosial, pemda dan sektoral, insentif dunia usaha, UMKM, dan pembiayaan korporasi. 

Febrio menyatakan, ada dua klaster yang penyerapannya sangat cepat, yaitu perlindungan sosial yang mencapai 75,6 persen atau senilai Rp177,05 triliun dan UMKM yang menyerap 82,4 persen atau senilai Rp94,64 triliun.

“Dua klaster ini sangat cepat penyerapan anggarannya, karena memang pemerintah fokus dengan dua hal ini,” imbuhya.

Selanjutnya adalah, penyerapan pada klaster kementerian dan lembaga (K/L) yang sebesar Rp32,21 triliun atau setara 48,8 persen dari alokasi anggaran, kesehatan menyerap Rp32,15 triliun atau setara dengan 33,1 persen, dunia usaha sebesar Rp38,13 triliun atau setara dengan 31,6 persen.

“Terakhir, pembiayaan korporasi Rp2 triliun atau setara 3,2 persen,” ucapnya.