Kemenperin Gelar Pameran Kosmetik dan Obat Tradisional

Sedangkan dari segi tenaga kerja, Indonesia memiliki 760 industri kosmetika yang tersebar di berbagai wilayah dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 75.000 orang secara langsung dan 600.000 orang di bidang pemasaran.

Sama halnya dengan industri kosmetika nasional, industri obat tradisional juga mencatatkan prestasi yang cukup menggembirakan. Hal tersebut terlihat dari omzet yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, omzet obat tradisional sekitar Rp. 5 triliun dan meningkat pada tahun 2011 yang mencapai Rp. 11 Trilyun. Hingga akhir tahun 2012, omzet obat tradisional sebesar Rp. 13 triliun dan pada tahun 2015 diperkirakan mencapai Rp. 20 triliun dengan nilai ekspor mencapai Rp. 16 triliun.

Saat ini, terdapat 79 Industri Obat Tradisional (IOT) serta 1380 Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa dengan menyerap ratusan ribu tenaga kerja.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nasional, kata dia produk kosmetik dan obat tradisional juga telah diekspor dan mampu menembus pasar internasional seperti kawasan ASEAN, Jepang,  jazirah Arab, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. Namun, industri kosmetik dalam negeri cukup mendapat tantangan dengan membanjirnya produk kosmetik impor di pasar domestik.

Naiknya nilai impor disebabkan oleh perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN sebagai dampak harmonisasi tarif, importir kosmetik yang melihat Indonesia sebagai pasar potensial, dan importasi kosmetik yang tidak diproduksi di Indonesia dari PMA (Multi National Company/MNC).

Dia mengharapkan, industri kosmetik dan obat tradisional terus memanfaatkan secara optimal potensi bahan baku herbal yang melimpah di dalam negeri, karena akan menjadi peluang usaha untuk meningkatkan daya saing produk nasional. ”Industri kosmetik dan obat tradisional harus mampu bersaing dengan produk impor yang memasuki pasar domestik,” tegas Benny.