Ketergantungan pada Utang Berbahaya

Kamis 11 Jul 2013, 11 : 59 am
by

JAKARTA-Ketergantungan pemerintah Indonesia pada utang luar negeri sangat berbahaya. Sebab sumber-sumber penerimaan negara dalam APBN akan tersedot untuk membayar cicilan hutang. Akibatnya hutang akan menekan pos-pos anggaran belanja lainnya.  Di sisi lain, cicilan hutang yang terus bertambah jumlahnya selalu disertai dengan penarikan hutang baru. Sehingga jumlah hutang negara bukannya berkurang tetapi terus bertambah. Pada kondisi ini negara sudah terjebak dalam perangkap hutang seperti yang dialami Indonesia sekarang. “Pertanyaannya, apa yang dikerjakan pemerintah selama ini? Siapa sesungguhnya yang menikmati hutang yang telah ditarik pemerintah?,” Tanya pengamat ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Hidayatullah Muttaqin di Jakarta, Kamis (11/7).

Menurut dia, utang yang diterima pemerintah selama ini sangat tidak produktif.  Bahkan, ada sebagian utang yang dikorup. “Utang ini menguntungkan segelintir elit karena sudah menjadi ajang permainan rente,” tegas dia.
Dia mengatakan, beban utang ini akan menjerumuskan Indonesia. Bahkan dampak utang terhadap pembangunan menjadi menurun. Pasalnya, kenaikan beban cicilan dan jumlah hutang Indonesia disertai dengan menurunnya kapasitas ekonomi Indonesia yakni dengan terjadinya defisit kembar, kemerosotan daya saing, dan ancaman “middle income trap”. Ini menunjukkan buruknya pengelolaan hutang negara oleh pemerintah yang bebannya akan diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaMoneter.com. Mari bergabung di Channel Telegram "BeritaMoneter.com", caranya klik link https://t.me/beritamoneter, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca juga berita kami di:

Komentar

Your email address will not be published.

Don't Miss

IPO

Sukses Gapai ARA di Listing Perdana, Market Cap INET Tembus Rp1 Triliun

JAKARTA – Saat memulai transaksi perdana pada perdagangan hari ini di

Tingkat Literasi Keuangan Masyarakat Baru 21,8%

JAKARTA-Hasil survei nasional literasi keuangan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan