Kita, Corona dan Perang Dagang

Perang Isu Coronanomic

Saya melihat pemberitaan kejadia ncovid 19 dalam skala global sudah sangat berlebihan.

Kita ketahui bersama China dan Amerika Serikat adalah “musuh” yang belum berakhir dalam perang dagang.

Bermula pada Maret 2018, saat Presiden Donald Trump mengenakan tarif 25% pada impor baja dan 10% impor aluminium dari sejumlah negara, terhadap sebagian negara ditangguhkan tetapi tidak dengan baja dan aluminium dari china.

Akibat kebijakan ini, China membalasnya dengan mengenakan 128 produk Amerika Serikat yang masuk China akan dikenai tarif 15-25%. Perang tariff terus berlangsung dan tak terhindarkan.

Kedua Negara terus saling berbalas pantun melalui prosentase tariff selama kurang lebih 20 bulan, per Oktober 2019 sebelum virus corona mewabah, Presiden Trump dan Presiden Xi membuat kesepakatan fase satu melalui beberapa pemangkasan tariff seperti ponsel dan pakaian dari China ke Amerika Serikat, termasuk pembelian produk manufaktur dan pertanian Amerika Serikat oleh China.

Namun akibat wabah virus corona yang terjadi di China sedikit banyak menguntungkan Amerika Serikat. Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan, karantina China menguntungkan bagi AS karena dapat kembali menjadi pemasok dunia.

Baca :  Sri Mulyani: Jokowi Pemimpin Dengan Dedikasi Luar Biasa Untuk Bangsa

Dunia juga mulai melihat Amerika Serikat sebagai pemasok manufaktur setelah lesunya pasokan dari China. Setidaknya, posisi ini akan dinikmati oleh Amerika Serikat sepanjang China tidak mampu cepat memulihkan kondisi dalam negerinya.

Menurut catatan Bloomberg, di Wuhan pusat epidemik corona terdapat lebih kurang 515 industri, mayoritas di sector manufaktur.

Beberapa di antaranya adalah 146 industri otomotif, 68 perusahaan komputer, 47 industri perangkat listrik, 32 industri produk konsumen, dan 222 perusahaan dari berbagai jenis industri lain.

Sementara Negara industri Asia lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan juga sedang menghadapi ancaman virus corona, dan tren suspect covid 19 di kedua kawasan ini meningkat.

Tak pelak, Amerika Serikat nyaris tanpa pesaing untuk sementara waktu.

Sangkaan Amerika Serikat memanfaatkan tragedi corona untuk menciptakan ketakutan global juga disampaikan Kementrian Luar Negeri China, ketika Amerika Serikat sebagai Negara pertama yang menarik staf kedutaannya di China dan melakukan pelarangan bagi wisatawan asal China.

Baca :  Aktivitas Ekonomi Rebound Paska Covid-19 Mereda

Dilain pihak, Amerika Serikat tidak memberikan bantuan yang nyata bagi penanganan corona di China. Meskipun perang dagang terus dibumbui isu coronanomic, rantai ekonomi dunia sebenarnya telah kait mengait, tidak ada satu Negara berdiri sendiri tanpa rantai bisnis dan suply chain dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat.

Akibat wabah corona ini OECD telah membuat proyeksi turunnya pertumbuhan ekonomi dunia.

OECD memperkirakan bahwa pertumbuhan dunia di tahun 2020 ini akan berkisar pada angka 2,4%, turun dari angka 2,9% pada bulan November 2019.

Namun apabila wabah ini menjadi lebih intensif lagi, pertumbuhan bisa hanya tinggal 1,5%, hamper separuh dari tahun lalu.

Cermin Retak

Di Indonesia sendiri pemberitaan tentang suspect covid 19 nyaris mengarah berlebihan, beruntung banyak pihak, termasuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sendiri menghimbau dan mengoreksi cara kerja media dalam pemberitaan covid 19, ketika media membocorkan identitas dan alamat pasien suspect covid 19, termasuk gaya pewarta yang berlebihan memakai respirator saat live reportase.

Baca :  Kasus COVID-19 Bertambah 1.014, Pasien Sembuh Juga Naik Menjadi 13.776

Kita berharap media lebih proporsional dan mempertimbangkan kepentingan nasional dalam pemberitaan tentang kasus corona.

Sebab bila berlebihan justru akan menimbulkan krisis yang ber multiplayer. Jangan sampai media-media nasional kita menampilkan kondisi social kita bagaikan cermin yang retak, sehingga wajah kita seolah-olah menakutkan, padahal tidak.

Dilain pihak, pemerintah sendiri harus mampu menjawab keraguan segenap pihak tentang kapasitas dan kompetensinya dalam mencegah dan menangani virus corona dan pasien suspect covid 19.

Hal ini semata-mata agar rakyat tenang, dan tetap berkarya melanjutkan pembangunan di segala bidang, terlebih menghadapi ancaman ekonomi akibat dampak corona. Terlebih China, Jepang, dan Korea Selatan adalah mitra dagang barang dan jasa strategis Indonesia.

Sakitnya ketiga kawasan ini otomatis akan berdampak serius pada ekonomi dalam negeri kita. Karenanya, mitigasi resiko atas dampak corona pada ekonomi dalam negeri harus benar-benar kita persiapkan dengan matang dan terkalkulasi.

Penulis adalah Ketua Badan Anggaran DPR RI Yang Juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian