Kontrak Kerja Lion Air Diduga Menyandera dan Eksploitasi Pilot

Hanya menurutnya, itu tidak dipahami oleh manajemen. Malah membuat keputusan dengan memecat 14 pilot itu dan melaporkan ke pihak Bareskrim Mabes Polri.

Kemarahan para pilot itu, sambungnya, karena uang transportasi yang harusnya diberikan justru tidak diberikan. Sementara kerja mereka, bahkan tetap dan bertambah. “Kalau dia marah atau stres dia wajib tidak terbang. Ini dalam rangka keselamatan penerbangan,” ujarnya menambahkan.

Mario menegaskan, mengenai delay sebenarnya kerugian bukan saja dialami oleh penumpang. Tapi juga kru-kru di dalamnya seperti pilot dan pramugari. “Kalau seiring delay pilot dan pramugari juga capek. Dampaknya jam kerja bertambah dan jam istrahat kami kurang,” katanya.

Ditambah lagi dengan tidak dibayarkannya uang transportasi, membuat para pilot emosional dan kondisi itu mengganggu penerbangan. “Mengganggu jelas secara psikis,”  katanya.

Baca :  Wings Air Resmi Buka Dua Destinasi Instagenic

Sebelumnya, manajemen Liob Air  melakukan pemecatan terhadap 14 pilot yang dituding membangkang dan melakukan pemogokan pada 10 Mei 2016  lalu. Penghentian kerja itu juga disertai dengan pelaporan kepada polisi dengan tuduhan mereka telah melakukan tindakan penghasutan. 

Direktur Umum Lion Air, ‎Edward Sirait mengatakan pelaporan ke ranah hukum tersebut diperlukan pihaknya guna memberikan kepastian hukum untuk kepentingan bagi para investor dan mitra kerja Lion Air. 

Edward juga mengatakan  Lion Air tidak mengakui keberadaan SP APLG, sehingga  sebalikknya, jika ada nama tersebut maka hal itu merupakan pemalsuan dan penipuan.

Majemen Lion Air juga telah mempublikasikan nama-nama pilot yang telah diberhentikan tersebut antara lain Eki Andriansjah (Ketua Serikat Pekerja Asosiasi Pilot Lion Group), lalu ada pula nama Yuda, Mario, Lakies, Rizky Agustino, Aulia Nugroho, Amsal, Warsono, Ade, Beni, Airlangga, Hasan Basri, Hartono, Gatot. ***
 

Baca :  Lion Air Tunda Sementara Layanan Umroh