Laba Bersih BBCA Turun Jadi Rp12,2 Triliun

Ilustrasi

JAKARTA-PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada Semester I-2020, mengalami penurunan laba bersih menjadi Rp12,2 triliun dari Rp12,9 triliun pada periode yang sama di 2019.

“Memang laba mengalami penurunan, terutama dari langkah kita menyiapkan CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) yang memadai dan tetap menyesuaikan kebutuhan kami ke depan,” kata Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja dalam acara “Virtual Press Conference Paparan Kinerja BCA Semester I-2020” di Jakarta, Senin (27/7).

Selain itu, kata Jahja, penurunan laba bersih tersebut juga dipengaruhi oleh program restrukturisasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7day Reverse Repo Rate) yang saat ini di level 4 persen.

“Kami juga sejalan dengan BI yang menurunkan suku bunga. Lending rate kami juga turun,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Jahja, penyaluran kredit BBCA hingga akhir Juni 2020 bertumbuh 5,3 persen (year-on-year) menjadi Rp595,1 triliun yang ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi.

Baca :  Awal Pekan, IHSG Diperkirakan antara 5.228-5.623 Poin

Pada Semester I-2020, BBCA membukukan kredit korporasi sebesar Rp257,9 triliun atau meningkat 17,7 persen (y-p-y).

Sedangkan kredit komersial dan UKM menurun 0,9 persen (y-o-y) menjadi Rp184,6btriliun.

Untuk portofolio kredit konsumer, KPR bertumbuh  flat 0,3 persen (y-o-y) menjadi Rp91 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) menurun 11,9 persen menjadi Rp42,5 triliun.

Saldo outstanding kartu kredit menurun 18,6 persen (y-o-y) menjadi Rp10,6 triliun akibat penurunan konsumsi domestik. Dengan demikian, total portofolio kredit konsumer menurun 5,1 persen (y-o-y) menjadi Rp146,9 triliun.

“BCA fokus mendukung nasabah untuk menghadapi kondisi perlambatan bisnis dengan memberikan restrukturisasi kredit secara selektif pada berbagai segmen. Selama Maret-Juni 2020, BCA memproses pengajuan restrukturisasi kredit sebesar Rp115 triliun atau sekitar 20 persen dari total portofolio kredit yang berasal dari 118.000 nasabah,” papar Jahja.

Per 30 Juni 2020, total kredit yang telah selesai direstrukturisasi tercatat sebesar Rp69,3 triliun atau sebesar 12 persen dari total portofolio kredit.

Baca :  Bank OCBC NISP Terbitkan MTN Rp 900 M

“Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30 persen dari total portofolio kredit yang berasal dari 200 ribu sampai 250 ribu nasabah,” ucapnya.

Lebih lanjut Jahja menyebutkan, pada semester pertama tahun ini BBCA berhasil mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Dana giro dan tabungan (CASA) bertumbuh 12,8 persen (y-o-y) menjadi Rp575,9 triliun dan berkontribusi sebesar 75,6 persen terhadap total DPK per akhir Juni 2020.

“Jaringan transaksi perbankan yang luas merupakan faktor pendorong pertumbuhan dana CASA,” imbuhnya.

Sementara itu, deposito berjangka BBCA pada Semester I-2020 tercatat bertumbuh 13,6 persen (y-o-y) mencapai Rp185,6 triliun.

Maka, secara keseluruhan, total DPK meningkat 13 persen (y-o-y) menjadi Rp761,6 triliun. Posisi likuiditas tetap kokoh, dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 73,3 persen.

Pada Semester I-2020, BBCA berhasil menurunkan biaya DPK, sehingga membantu meringankan tekanan pada pendapatan bunga gross yang diakibatkan oleh peningkatan restrukturisasi kredit.

Baca :  Semester I-2020, RELI Alami Lonjakan Laba Bersih 282,79%

Pendapatan bunga bersih mengalami kenaikan 10,6 persen (y-o-y) menjadi Rp27,2 triliun.

Maka, total pendapatan operasional pada Semester I-2020 menjadi sebesar Rp37,8 triliun atau bertumbuh 10,3 persen (y-o-y). Beban operasional bertumbuh lebih rendah, sebesar 3,8 persen menjadi Rp16,2 triliun. Dengan demikian, laba sebelum provisi dan pajak mencapai Rp21,5 triliun atau bertumbuh 15,8 persen.

Jahja mengungkapkan, biaya pencadangan penurunan nilai aset adalah sebesar Rp6,5 triliun pada Semester I-2020. Jumlah ini dinilai sejalan dengan peningkatan risiko potensi penurunan kualitas kredit.

Dia menambahkan, rasio kecukupan modal (CAR) BBCA per akhir Juni 2020 tercatat sebesar 22,9 persen, rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,1 persen dibandingkan 1,4% pada Juni 2019.

Rasio pengembalian terhadap aset (ROA) sebesar 3,1 persen dan rasio pengembalian terhadap ekuitas (ROE) sebesar 15,6 persen.