Laras Febriany: Masih Ada Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed  

Friday 22 Mar 2024, 9 : 04 pm
by
Laras Febriany – Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)

Investor asing mencatat penjualan bersih di pasar obligasi di awal tahun ini. Bagaimana minat investor domestik terhadap obligasi di minat asing yang fluktuatif?

Berikut kutipan wawancara dengan  Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Laras Febriany.

Terdapat pandangan The Fed dapat mulai memangkas suku bunga tahun ini,  namun imbal hasil SBN 10-tahun justru mengalami peningkatan di awal tahun ini dari 6,45% menjadi 6,59%. Faktor apa yang mempengaruhi ini?

Kondisi ini terjadi merespon data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi, di mana data ketenagakerjaan dan inflasi cenderung lebih tinggi dari ekspektasi pasar di awal tahun ini.

Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga.

Di sisi lain, data ini tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga secara agresif di 2024.

Di awal tahun pasar memperkirakan The Fed dapat memangkas suku bunga sebesar 150bps tahun ini dengan pemangkasan pertama di bulan Maret, lebih agresif dibanding ekspektasi The Fed yang memperkirakan pemangkasan 75bps.

Merespon kondisi ini, pasar telah menyesuaikan ekspektasinya, di mana estimasi pemangkasan suku bunga pasar turun menjadi 80bps yang lebih selaras dengan ekspektasi The Fed.

Baca juga :  John Palinggi: Presiden Jokowi Sangat Brilian Menarik Investasi

Apakah masih ada keyakinan terhadap potensi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini?

Kami masih melihat adanya potensi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Sejauh ini yang berubah adalah ekspektasi pasar yang tadinya agresif menjadi lebih selaras dengan The Fed, sementara sikap The Fed masih belum berubah.

Dalam pernyataan terakhirnya di awal Maret, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa The Fed semakin mendekati keyakinan yang dibutuhkan untuk mulai memangkas suku bunga.

Pernyataan ini menjadi indikasi bahwa keyakinan The Fed terus meningkat dan kita semakin mendekati periode pemangkasan suku bunga.

Inflasi Indonesia cenderung naik di awal tahun ini. Apakah ini berisiko menjadi kondisi yang persisten dan dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Bank Indonesia?

Dalam jangka pendek kami memang melihat tekanan inflasi Indonesia akan cenderung meningkat.

Penurunan produksi beras dan tertundanya masa panen akibat El Nino menyebabkan kenaikan harga beras yang dapat mendorong kenaikan inflasi dalam jangka pendek.

Baca juga :  An Old Man Telling Me about Wars

Kementerian Pertanian mengindikasikan bahwa periode panen raya mundur karena efek El Nino, dari biasanya terjadi di bulan Maret-April, menjadi April-Mei.

Selain itu periode Ramadhan juga secara musiman dapat menyebabkan inflasi cenderung naik.

Namun kami melihat beberapa faktor ini bersifat jangka pendek dan musiman yang harusnya tidak berdampak pada kebijakan BI dalam jangka menengah.

Tekanan inflasi berpotensi untuk mereda seiring dengan datangnya musim panen dan berakhirnya periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Sebagai gambaran lain, inflasi inti yang mengindikasikan tekanan inflasi secara fundamental, masih menunjukkan tren melandai ke level 1,68% di Februari.

Investor asing mencatat penjualan bersih di pasar obligasi di awal tahun ini. Bagaimana minat investor domestik terhadap obligasi di minat asing yang fluktuatif? 

Kondisi global yang fluktuatif di tengah ketidakpastian kebijakan The Fed tentunya mempengaruhi selera investasi investor asing.

Positifnya, bauran kebijakan BI yang pro-stabilitas dan minat investor domestik yang kuat berhasil menopang pasar obligasi.

Di periode Januari hingga Februari investor asing mencatat penjualan bersih Rp5,5 triliun, namun BI membukukan pembelian bersih Rp39 triliun, dan investor individu mencatat pembelian bersih Rp22 triliun.

Baca juga :  Populi Center: Publik Lebih Percaya Ahok Dibandingkan BPK

Permintaan yang kuat di lelang SUN juga menjadi indikasi minat investor yang tetap kuat. Hingga akhir Februari 2024, rata-rata penawaran lelang SUN mencapai Rp58 triliun per lelang, lebih tinggi dari rata-rata penawaran di 2023 IDR44 triliun.

Tingkat imbal hasil yang menarik serta optimisme pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga masih mendukung minat investor domestik terhadap pasar obligasi.

Dengan optimisme potensi pemangkasan suku bunga yang positif bagi pasar obligasi, adakah faktor risiko yang perlu diperhatikan investor?

Risiko utama adalah apabila terdapat indikasi pemangkasan suku bunga The Fed akan mundur, yang mungkin dipengaruhi oleh data ekonomi AS lebih resilien dari ekspektasi. Perubahan ekspektasi pasar tentunya dapat menyebabkan volatilitas di pasar.

Selain itu faktor geopolitik juga dapat menjadi faktor yang tidak dapat diprediksi, dengan konflik yang masih berlanjut di Timur Tengah dan Ukraina, serta hubungan AS – China yang cenderung tidak stabil.

Walau kondisi geopolitik ini tidak mempengaruhi ekonomi Indonesia secara langsung, namun eskalasi kondisi dapat mempengaruhi risk appetite investor.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaMoneter.com. Mari bergabung di Channel Telegram "BeritaMoneter.com", caranya klik link https://t.me/beritamoneter, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca juga berita kami di:

gatti

Adalah jurnalis senior yang memiliki spesialisasi dalam membuat analisis ekonomi dan politik.

Komentar


HI THERE!

Eu qui dicat praesent iracundia, fierent partiendo referrentur ne est, ius ea falli dolor copiosae. Usu atqui veniam ea, his oportere facilisis suscipiantur ei. Qui in meliore conceptam, nam esse option eu. Oratio voluptatibus ex vel.

Wawancara

BANNER

Berita Populer

Don't Miss

Pengamat: Langkah KIB Rumuskan Program Koalisi Dianggap Progresif

JAKARTA-Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman

Perlu Pembenahan Sektor Hulu di TKI

JAKARTA-Keberadaan Panja RUU Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di