Lazarus, S.Sos, Msi: Terinspirasi Keteguhan Hati Megawati

Jejak politik Megawati Soekarnoputri ternyata berpengaruh kuat pada pembentukan karakter dan perjalanan karier politisi PDI Perjuangan DPR RI, Lazarus, S.Sos, M.si. Dari Megawati, putra Kalimantan Barat ini belajar banyak hal, mulai dari soal etika politik hingga komitmen terhadap wong cilik.

Awalnya, Lazarus tidak terlalu tertarik dengan hiruk pikuknya dunia. Disaat banyak orang bicara soal politik, Lazarus justru asyik dengan dunianya sebagai karyawan di sebuah perusahaan minyak di Kalimantan Barat. Namun pada tahun 1999, perubahan besar terjadi. Diam-diam, Lazarus tertarik dan mulai terjun ke dunia politik.

Persinggungan Lazarus dengan dunia politik berawal dari rasa simpatinya terhadap perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam menegakkan demokrasi di tanah air. Lazarus merasa teriris hatinya melihat begitu teraniayanya putri proklamator RI ini. Sejak saat itu, dia membulatkan tekadnya untuk terjun kedunia politik. “Perjuangan ibu Mega dalam memperjuangkan demokrasi di Indonesia terus saya amati. Pelan tetapi pasti, saya mulai jatuh cinta dengan komitmen perjuangan ibu Mega dan ini mempengaruhi saya terjun kedunia politik praktis,” kenang Lazarus.
Maka, ketika PDI Perjuangan berdiri pada tahun 1999, Lazarus bergabung dengan partai moncong putih. Lazarus kemudian terpilih menjadi salah seorang pengurus PDI Perjuangan tingkat kecamatan di kabupaten Sintang, Propinsi Kalimantan Barat.
Seiring dengan perjalanan waktu maka pada tahun 2004, Lazarus maju sebagai calon legislative untuk tingkat kabupaten Sintang. Lazarus terpilih dan kemudian menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang periode 2004-2009. Sedangkan di level partai, Lazarus sudah menjadi pengurus DPC PDI Perjuangan tingkat Kabupaten Sintang sejak tahun 2001.
Dewi fortuna tampaknya menaungi perjalanan hidup Lazarus. Pada tahun 2005, Lazarus terpilih menjadi pengurus DPD PDI Perjuangan Propinsi Kalimantan Barat. Dan hingga saat ini, Lazarus masih menjadi pengurus. Setelah lima tahun menjadi anggota DPRD dan pengurus partai, Lazarus sudah mulai merasa nyaman. Lazarus juga sudah merasakan kalau jalur politik yang dipilihnya sudah menjadi jalan hidup. Maka tak heran, jika pada pemilu legislative 2009 yang lalu, Lazarus mencoba peruntungan baru dengan menjadi caleg DPR RI.
Pilihan menjadi caleg DPR RI bukan tanpa rintangan. Dukungan dari teman-teman minim sekali. Singkatnya, teman-teman kurang memberi support seputar langkah pencalegan DPR RI ini.
Keraguan teman-temannya ini sangat beralasan. Maklum, Lazarus yang berasal dari kabupaten harus bersaing dengan begitu banyak kandidat DPR RI. Asal tahu saja, ada sekitar belasan anggota DPR aktif yang menjabat pada periode 2004-2009 yang mengambil Dapil Kalimantan Barat. Ditambah lagi dengan mantan gubernur, anak gubernur, mantan Ketua DPRD hingga Mantan Sekda Propinsi Kalimantan Barat. Belum lagi kemampuan financial dari para caleg ini yang boleh dibilang sangat mapan.

Namun munculnya para pesohor politik ini ternyata tidak membuat Lazarus ciut. Lazarus malahan merasa senang dan tertantang memiliki pesaing politik seperti mereka ini. Tekad Lazarus sudah bulat. Tidak ada pilihan lain, selain terus maju. Lazarus berkeyakinan bisa terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan. Pengalaman selama menjadi anggota DPRD cukup memberinya kekuatan. Apalagi, hubungannya dengan konstituen atau masyarakat di Kalimantan Barat sangat baik. Sehingga Lazarus yakin kalau bisa mengambil satu dari 10 jatah kursi DPR RI dari dapil Kalimantan Barat. “Dan puji Tuhan, singkat cerita, saat pemilu digelar, hasilnya bisa memutarbalikan semua prediksi. Semua keraguan bisa terjawab. Saya yang berasal dari antah berantah kalau dilihat dari latar belakang politik , ekonomi, pengalaman dan factor senioritas, ternyata berhasil mengalahkan para politisi incumbent. Bahkan saya meraih posisi nomor 3 peraih suara terbanyak di Kalimantan Barat dengan raihan suara mencapai 87 .000 suara. Dengan hasil ini, saya berhak mendapat satu jatah kursi dari Kalimantan Barat untuk DPR RI,” ungkap anggota Komisi V ini.

Faktor Mega
Sukses Lazarus menjadi politisi ternyata tidak terlepas dari pengaruh ataupun andil sejumlah tokoh politik. Salah satunya adalah Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Bahkan, Mega sekaligus menjadi guru politiknya. “Ibu Mega ini banyak sekali memberi inspirasi bagi saya untuk terus berjuang demi perbaikan kehidupan demokrasi di Indonesia. Tentu dengan prinsip kesederhanaan,” katanya.
Bagi Lazarus, pengaruh figure Ibu Mega itu luar biasa. Komitmennya terhadap wong cilik tidak perlu diragukan lagi. “Kita ini kan berasal dari daerah, hidup dipedalaman dan orang-orang yang teraniaya sebenaranya dari sisi pembangunan. Kalau Kalimantan itu kan salah satu wilayah yang kekayaan alamnya digerogoti, tetapi wilayahnya tidak dibangun. Ketidakadilan itu kita rasakan,” tuturnya.
Dan ketika melihat Mega teraniaya, rasa simpati dan empati secara otomatis muncul. “Inilah yang turut mendorong saya untuk terjun ke politik. Sehingga saya memutuskan kalau PDI Perjuangan inilah partai yang paling cocok bagi saya berkarya. Ibu Mega ini memang pemimpin partai politik yang saya idolakan. Sehingga meneguhkan hati saya agar menjadikan politik sebagai pilihan hidup,” ceritanya.

Anak Petani
Masa kecilnya dihabiskan di Kalimantan Barat. Di kota inilah, Lazarus tumbuh dan berkembang. Namun jangan berpikiran kalau Lazarus berasal dari keluarga politisi. Orang tuanya ternyata hanyalah petani bahkan tidak sempat menyenyam pendidikan. Lazaruspun merasakan hidup dengan segala keterbatasan. “Penderitaan itu sudah cukuplah. Kalau melihat latar belakang keluarga, saya juga tidak percaya bisa ada di sini sekarang (menjadi anggota DPR RI_red). Rupanya Tuhan memiliki rencana yang indah dan luar biasa yang sulit diprediksi sehingga saya bisa menjalani karier dengan baik. Puji Tuhan, sampai hari ini, Tuhan masih memberi kesempatan hingga saya menjadi anggota DPR,” tuturnya.

Sebagai politisi, Lazarus tidak menutup mata dengan sejumlah persoalan serius di tanah air. Khususnya soal pemerataan pembangunan. Hingga saat ini katanya, pembanguan ini masih belum adil, khususnya buat daerah Kalimantan dan Indonesia Bagian Timur secara umum. Fakta membuktikan, alokasi anggaran masih cenderung ke Barat dan pulau Jawa. Dan terkesan alokasi anggaran masih terkosentrasi untuk daerah-daerah yang maju dengan alasan penghasilan daerahnya tinggi. Padahal, PAD yang tinggi ini hanya semacam pembenaran politik. Coba lihat, Kalimantan dan Papua yang begitu kaya, tetapi bagi hasilnya tidak merata. “Jadi, memang politik anggaran kita masih belum adil. Harus kita akui, system yang berjalan ini masih belum adil bagi wilayah yang disebut tertinggal,” katanya.

Tak Ngoyo
Menjadi anggota DPR RI bukanlah puncak karier seorang Lazarus. Namun, Lazarus bukanlah tipikal politisi yang ngoyo. Tetapi siapapun, pasti mempunyai cita-cita, keinginan, kemauan dan tujuan hidup untuk sedapat mungkin bisa berbuat lebih banyak bagi kemajuan daerah dan bangsa Indonesia. “Tetapi saya termasuk orang yang tingkat kehati-hatian dalam melangkah sangat tinggi. Saya tidak kepengen gegabah. Kalau memang masuk dalam hitungan saya maka langkah-langkah politik selanjutnya pasti akan diambil,” ujarnya
Prinsipnya, selama peluang masih terbuka, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi kalau masyarakat menghendakinya. Sebagai politisi, tentu punya banyak osebsi. Namun osebsinya tidak muluk-muluk. Lazarus berkeinginan agar bisa berarti ketika menduduki sebuah jabatan. “Seperti sekarang, saya menjadi wakil rakyat dari Kalimantan Barat. Saya rindu, kalau ada masyarakat yang mengatakan kepada saya..“Pak Lazarus, ternyata berbeda ketika bapak di DPR RI dengan anggota DPR yang lainnya. Ternyata bapak betul-betul menjadi wakil rakyat yang kami harapkan. Jadi, saya ingin masyarakat puas dengan apa yang saya lakukan,” tuturnya.