Lebak Jadi Tolok Ukur Kemakmuran Indonesia

SERANG-Kabupaten Lebak harus menjadi tolok ukur kemakmuran tidak hanya bagi Propinsi Banten tetapi juga Indonesia dalam pembangunan 70 tahun kedua Kemerdekaan RI yang dikenal dengan istilah G-70. Kesejahteraan masyarakat kabupaten Lebak itulah yang nanti akan menjadi cermin keberhasilan seluruh propinsi di Indonesia.  Oleh karena itu, kemakmuran Lebak menjadi mimpi yang tidak boleh dilupakan oleh masyarakatnya. Demikian diungkapkan Kordinator Panitia Daerah (Panda) G-70 Propinsi Banten, Ananta Wahana di Serang, Minggu (4/10).

Pernyataan Ananta Wahana terkait dengan rencana seminar “ Revolusi Mental Menuju Banten Yang Sejahtera dan Bermartabat” pada Selasa (6/10) di Universitas Tirtayasa, Serang, Banten yang diselenggarakan dalam rangka menyambut kedatangan Kapsul Waktu yang berisi mimpi rakyat seluruh Indonesia. Ke dalam kapsul yang diboyong menjelajah ke seluruh Indonesia itu, setiap propinsi memasukan 7 (tujuh) mimpi yang diharapkan oleh masyarakatnya.

Seminar tersebut akan menghadirkan Gubernur Banten, Rano Karno sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Sementara pembicara lain adalah, Bondan Gunawan (Tokoh Nasional), Prof. Dr. H. Soleh Hidayat, M.Pd ( Rektor Untirta), Prof. Dr. H.MA Tihami, MM ( Sosiolog Banten), H. E. Rahmat Taufik P.Hd ( Ketua STIE Banten), Ito Prajna Nugroho ( Filosof Muda), Drs. H. M. Agus Salim M.Pd ( Kepala Kanail Depag Banten), Asep Rahmatullah ( Ketua DPRD Banten), Drs. H. Ranta Soeharta ( Sekda Provinsi Banten) dan akan dipandu oleh AM Putut Prabantoro , Konsultan Komunikasi Politik.

Ananta Wahana menjelaskan, Kabupaten Lebak itu dikenal di seluruh dunia pada waktu itu karena novel “Max Havelaar” yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker yang nama samarannya adalah Multatuli pada tahun 1860 di Belgia. Novel itu berisi kisah nyata tentang pembiaran pemerintah Belanda atas praktik perbudakan, korupsi dan penindasan yang dilakukan pemerintah pribumi. “Jadi kalau mau bicara soal mimpi, kita harus bicara sejarah. Bagaimana menghapus nama Lebak yang serba miskin, tertindas dari novel Max Havelaar, itu persoalannya,” imbuhnya.

“Selama masyarakat Kabupaten Lebak tidak sejahtera, Max Havelaar akan terus dikenang sebagai Lebak yang berwajah buruk. Tantangan yang dihadapi oleh pemerintah Banten pada waktu kapanpun adalah menghapus gambaran buruk tentang Lebak versi Max Havelaar dan menggantikannya dengan novel baru yang mengisahkan Lebak yang sejahtera.” tegas Ananta Wahana, yang juga pengasuh Padepokan Kebudayaan, Karang Tumaritis Tangerang.