Masuknya PBB, Peta Politik 2014 Berubah

JAKARTA- Konstalasi politik menjelang pemilu 2014 sedikit berubah menyusul  masuknya Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai Peserta Pemilu 2014.  Lolosnya partai bentukan Yusril Ihza Mahendra ini menganggu kesiapan partai-partai lain yang sudah terlebih dahulu memastikan diri lolos menjadi peserta pemilu. “Dengan bertambahnya peserta pemilu, tingkat kesulitan yang akan dihadapi oleh parpol-parpol parlemen menjadi bertambah,” ujar peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus di Jakarta, Selasa (19/3).

Seperti diketahui, PBB ditetapkan menjadi peserta Pemilu 2014 dengan mendapatkan nomor urut 14 setelah 10 nomor urut diberikan kepada Parpol Senayan, di antaranya Partai NasDem (1), Partai Kebangkitan Bangsa (2), Partai Keadilan Sejahtera (3), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (4), Partai Golkar (5), Partai Gerindra (5), Partai Demokrat (7), Partai Amanat Nasional (8), Partai Persatuan Pembangunan (9) dan Partai Hanura (10). Sementara tiga nomor urut selanjutnya diberikan kepada partai lokal Provinsi Aceh.
Menurut dia,  kompetisi politik  pada pemilu 2014 akan semakin ketat.  Pasalnya, PBB ini bukan partai yang baru sama ikut pemilu. PBB kata dia sudah pernah berpengalaman menjadi peserta pemilu dan memperoleh kursi legislative. Ditambah faktor Yusril  Ihza Mahendra yang tidak asing bagi public. “Semuanya bisa dikatakan sebagai faktor yang sudah pasti membuat peta politik 2014 akan berubah.. Jadi, PBB ini beda dengan Partai Nasdem,” urai dia.

Dia menilai, KPU sudah nampak tidak lagi konsisten dengan keputusan-keputusannya. Untuk kesekian kalinya mereka melakukan perubahan keputusan karena kekeliruan dan ketakakuratan KPU yang dilihat oleh lembaga hukum atau etis (PT TUN dan DKPP). “Yang justru mengherankan dalam hal bergabungnya PBB ini adalah sikap KPU yang juga akan sangat menentukan bagi hasil pemilu 2014 mendatang,” jelas dia.

Sikap KPU yang menerima PBB tanpa usaha kasasi mengundang tanya. Apalagi alasan KPU hanya karena mepetnya waktu. “Saya melihat bahwa alasan KPU sangan tidak substantive,” jelas dia. “Jadi faktor KPU dengan track record yang labil seperti saat ini jauh lebih berpotensi membuat pemilu 2014 akan penuh kejutan ketimbang masuknya PBB sebagai peserta pemilu,” tutur dia.