Memanfaatkan Bonus

Ilustrasi

Oleh: Freddy Tedja

Awal tahun adalah saat yang ditunggu-tunggu karyawan dan pekerja yang akan menerima penghasilan tambahan berupa bonus tahunan. Bonus merupakan bagian dari hasil kerja keras selama setahun, dan tentunya kita ingin menikmatinya secara spesial. Sangat wajar dan boleh-boleh saja.

Namun, jangan lupa untuk memanfaatkan secara bijak bonus yang diterima. Mari simak penjelasan Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Bonus itu tidak pasti

Jangan keburu terlalu senang ketika akan menerima bonus. Harus diingat, bonus bukanlah penghasilan tetap. Jumlah yang diterima bisa nol, bisa juga besar. Semua tergantung kepada kinerja kita dan juga kinerja perusahaan pada tahun sebelumnya. Karena jumlahnya yang tidak pasti, penting bagi kita untuk merencanakan penggunaan bonus. Pastinya, janganlah membelanjakannya bonus yang belum diterima!

Baca :  Utang Indonesia Kembali Meningkat di Triwulan II-2014

Kenapa harus menunda? Bisa dibayangkan, seandainya bonus yang diterima tidak sesuai harapan (misalnya, jumlahnya di bawah harapan atau malah tidak dapat sama sekali), yang repot justru kita sendiri. Alih-alih menikmati bonus, yang ada pengeluaran justru bertambah, atau bahkan sampai berutang.

Menyenangkan diri dari bonus

Bonus itu ibarat doping, pemacu semangat agar kinerja kita dapat lebih produktif lagi ke depannya. Tidak ada salahnya menggunakan bonus untuk menyenangkan diri kita, seperti belanja, atau berlibur bersama keluarga. Lalu, bagaimana jika kita punya utang? Bonus pun dapat kita manfaatkan untuk melunasi sebagian kewajiban utang. Bunga utang konsumtif, jauh lebih besar daripada bunga simpanan atau deposito, sehingga mengurangi kewajiban utang akan menyehatkan kondisi keuangan kita. Namun jangan lupa untuk tetap mengalokasikan sebagian porsi bonus untuk menyenangkan diri. Karena bonus merupakan hasil kerja keras kita yang halal, jadi harus kita nikmati dan syukuri.

Baca :  Pandemi Covid-19 dan Utang Pemerintah

Perencanaan keuangan dari gaji bukan bonus

Penting untuk merencanakan penggunaan bonus. Namun harus diingat, jangan mengandalkan bonus ke dalam perencanaan keuangan yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Berbeda dengan gaji ataupun THR yang sudah dapat kita prediksi dan pastikan jumlahnya, tidak demikian dengan bonus.

Untuk memenuhi tujuan keuangan seperti persiapan pendidikan anak, liburan, atau persiapan pensiun – lakukan perencanaan keuangan secara matang dari penghasilan tetap yang lebih terprediksi Setidaknya 20% dari penghasilan setiap bulan kita sisihkan untuk masa depan.

Bonus untuk investasi, kenapa tidak?

Berapapun jumlah bonus yang diterima, wajib kita syukuri. Jika jumlahnya tidak sesuai harapan, karena tidak masuk ke dalam perencanaan keuangan bulanan, maka tujuan keuangan yang sudah ditentukan sebelumnya tidak akan terganggu. Namun jika bonus yang diterima melebihi ekspektasi, sisihkan sebagian untuk menambah porsi investasi kita. Silahkan ditentukan secara bijak penggunaan bonus.

Baca :  Said Abdullah Dorong Percepatan Pengalihan ASABRI dan TASPEN ke BPJS

Ingat rumus: Penghasilan dikurangi gaya hidup sama dengan masa depan. Artinya semakin banyak bonus yang kita belanjakan untuk masa kini, semakin sedikit yang bisa dimanfaatkan untuk masa depan. Bonus adalah tepat untuk dibelanjakan bila perencanaan keuangan untuk masa depan telah dipersiapkan dengan baik.

Penulis Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)