ASEAN Peluang Investasi Baru Bagi Dunia Internasional

JAKARTA-Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangat kondusif bagi investasi baru meskipun Indonesia baru saja menjalankan Pemilu Presiden. Kondisi demografi Indonesia juga untuk menunjukkan peta wilayah dan perdagangan di Indonesia, termasuk sebagai bagian penting peluang investasi. Namun, potensi sumber daya ekonomi Indonesia masih perlu mendapat perhatian serius. “Indonesia memiliki potensi sumber daya ekonomi yang sangat besar dan kini semua perizinan investasi semakin dipermudah,” tandas Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi ketika melakukan pertemuan dengan pengusaha-pengusaha Amerika Serikat (AS) di Myanmar dalam rangkaian pertemuan AEM.

Pertemuan bilateral Indonesia-US ASEAN Business Council (US ABC) ini dipimpin langsung Mendag Lutfi. Pertemuan ASEAN Economic Ministers (AEM) di Nay Pyi Taw, Myanmar, memastikan ASEAN sebagai peluang investasi baru bagi dunia internasional. “ASEAN akan berkembang secara progresif di masa mendatang dengan pasar yang potensial. ASEAN merupakan pasar tunggal sehingga dapat menjadi basis produksi yang bisa menjadi platform bagi pebisnis internasional. Selain itu, ASEAN dapat dijadikan tempat untuk mengembangkan global value chain,” jelas Lutfi.

Lutfi meyakinkan para pengusaha AS tentang masa depan ASEAN, terutama jika berinvestasi di Indonesia.

Sekedar catatan, nilai perekonomian negara anggota RCEP mencapai sebesar USD 21,3 triliun atau hampir 30% dari perekonomian dunia. Total perdagangan anggota RCEP mencapai USD 10,7 triliun atau 29% perdagangan dunia. Sementara itu, nilai total foreign direct investment (FDI) dalam RCEP sebesar USD 339,8 miliar, atau 23,4% FDI dunia.

Lutfi mengajak para pengusaha AS segera berinvestasi di Indonesia. Sejumlah isu yang menjadi sorotan para pengusaha AS tersebut antara lain Permendag 70/2013 dan dampaknya terhadap investasi mereka, e-commerce, sektor jasa, dan infrastruktur di ASEAN.

Sementaraitu, pertemuan Regional Comprehensive Economic Partnership Ministerial Meeting (RCEP MM), di mana Indonesia sebagai koordinator RCEP dan Iman Pambagyo sebagai Ketua RCEP-Trade Negotiating Committee (RCEP-TNC), juga dilaksanakan dalam rangkaian pertemuan AEM.

Pada pertemuan ini dilakukan perundingan pembentukan Perjanjian RCEP melibatkan ASEAN dengan enam negara mitra (ASEAN Free Trade Partners/AFPs), yaitu Australia, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. “Perundingan ini dimaksudkan untuk integrasi ASEAN dengan perekonomian global sebagai wujud respon ASEAN terhadap dinamika kawasan,” tegasnya.

Lutfi menyampaikan, para menteri dalam pertemuan ini memberikan masukan dan arahan kepada para perunding RCEP-TNC untuk menyelesaikan perundingan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. “Diharapkan penyelesaian perundingan akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan akses pasar dan memperkuat integrasi ekonomi yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan di kawasan,” jelasnya.

Terdapat tiga isu utama dalam RCEP yang penting untuk diselesaikan, yaitu mengenai perdagangan barang, jasa, dan investasi. Dalam perdagangan barang, para menteri meminta penyelesaian komitmen modalitas barang yang mencakup minimum threshold for initial offers (berupa penghapusan tarif atas tariff lines dan trade values) berdasarkan komitmen dan jangka waktu liberalisasi dalam lima perjanjian FTAs yang telah ada agar dapat diselesaikan pada Oktober 2014.

Pada perdagangan jasa, para menteri meminta untuk mempercepat penyelesaian dengan menggunakan pendekatan yang tepat untuk jadwal komitmen dan menyarankan menggunakan pendekatan negatif untuk investasi. “Jasa dan investasi memainkan peran penting bagi sektor perdagangan. Dalam hal ini Indonesia mendukung penyelesaian jadwal komitmen investasi menggunakan pendekatan negatif,” ujar Lutfi.

Sementara itu, isu lainnya adalah UKM, e-commerce, dan government procurement yang bersifat cross-cutting issues akan dibahas dalam level TNC sampai dengan disepakati perlunya dibentuk kelompok kerja tersendiri membahas isu tersebut.