Mengantisipasi Dampak Coronanomics

MH, Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Bidang Perekonomian Periode 2019-2024.

Oleh: MH. Said Abdullah

Virus Corona (Covid-19) telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seluruh negara di dunia. Covid-19 telah masuk ke 45 negara di dunia, menjangkiti 80 ribu lebih orang dan menewaskan 2.000 lebih pasien di China.

Bahkan diperkirakan dampak yang ditimbulkannya, lebih parah dari Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang juga sama-sama berasal dari China. SARS yang mewabah pada 2002-2003, memakan korban jiwa hampir 800-an orang di seluruh dunia dan menjangkiti sekitar 8.000-an lebih orang selama periode tersebut.

The Economist, mulai menyebut nama Covid-19 dengan istilah Coronanomics, karena dampak yang ditimbulkannya telah memberikan dampak yang besar bagi demand-supply barang dan jasa yang belum pernah terjadi sebelumnya,di seluruh dunia.

Artinya Coronanomics telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian global.

Bahkan, Bank of America (BofA), memprediksi pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan mencatatkan kinerja terburuknya pada tahun ini, sejak resesi besar di Amerika Serikat (Great Depression) tahun 1930.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di seluruh dunia diproyeksikan melambat menjadi 2,8% untuk tahun 2020. Terendah sejak resesi dan krisis keuangan berakhir pada pertengahan 2009 lalu.

Baca :  Antisipasi Virus Corona, Pemerintah Siapkan 9 ‘Hotline’

Himpitaan ekonomi akan lebih terasa lebih berat bagi bagi beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Pada saat perang dagang (trade war) yang telah berlangsung beberapa tahun, baru saja mereda.

Ekonomi global akan kembali mengalami tekanan yang lebih parah. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari posisi China yang telah berubah menjadi ekonomi terbesar kedua dunia setelah AS.

Hari ini, ekonomi China sebagai penyumbang 28 persen dari ekonomi global. Tidak bisa dipungkiri, China telah menjadi rantai pasok global (global supply-chain) bagi negara-negara di dunia.

Bahkan The Federal Reserve (The Fed), mengakui bahwa keadaan di China akan mempengaruhi ekonominya.

Lalu, bagaimana dengan nasib negara-negara lainnya yang perekonomiannya tidak sekuat AS, termasuk Indonesia.

Sudah pasti perlu langkah-langkah antisipatif yang bisa meminimalisir dampak Coronanomics bagi perekonomian Indonesia.

Mitigasi Resiko

Saya akan terus mendorong Pemerintah, untuk segera mengambil langkah-langkah yang bersifat antisipatif, untuk menghadapi dampak yang ditimbulkan oleh Coronanomics ini dalam beberapa waktu kedepan.

Kita tentu akan fokus, untuk terus menjaga perekonomian nasional disamping tetap berusaha untuk mencapai target-target yang terdapat dalam APBN 2020.

Baca :  Saatnya Melirik Reksa Dana Saham?

Terdapat beberapa langkah yang bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah:

Pertama, mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencegah penyebaran Covid-19, penyediaan peralatan pendeteksi virus di tempat-tempat umum, sosialisasi yang masif disemua media, kesiapan RS, ruang isolasai dan pengobatan serta tenaga medis yang memadai.

Walaupun Pemerintah harus mengeluarkan anggaran cukup besar, langkah ini dianggap sebagai langkah antisipatif yang bisa meminimalisir dampak ekonomi yang ditimbulkan. Keselamatan jiwa masyarakat tetap harus diutamakan.

Termasuk membatasi sementara mobilitas orang daridan ke negara yang memang menjadi kawasan penyebaran corona.

Kedua, kebijakan fiskal yang tepat sasaran. Dampak yang paling cepat dirasakan oleh Indonesia adalah, terganggunya ekspor dan impor nasional. Terganggunya perekonomian China, tentu akan berdampak terhadap permintaan terhadap barang komoditas yang menjadi andalan kita selama ini, seperti batu bara dan kelapa sawit.

Selain itu, juga akan berdampak terhadap ketersediaan barang impor, sehingga akan berpengaruh terhadap industri yang bahan baku atau barang modalnya berasal dari China.

Oleh Sebab itu, dalam jangka pendek, APBN harus mampu menstimulus permintaan domestik melalui kebijakan fiskal yang tepat sasaran.

Baca :  Ekonomi Indonesia Masuk Resesi

Saya akan terus mendorong, agar belanja pemerintah mampu meningkatkan daya beli masyarakat, melalui konsumsi rumah tangga sesegera mungkin. Seperti beberapa program, diantaranya, Program Keluarga Harapan (PKH),Padat Karya Tunai, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Ketiga, Kebijakan moneter yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi saat ini. Mengingat, efek penyebaran Convid-19, telah membuat rupiah terdepresiasi pada kisaran Rp 14.200 per USD. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada akhir 2019 masih di atas level 6.000, sekarang turun ke kisaran 5.200.

Langkah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya atau BI-7Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75%, perlu terus dipantau dampaknya, terutama untuk menjaga perekonomian domestik, bahkan bila perlu kebijakan relaksasi kredit bisa dipertimbangkan untuk dilakukan.

Selain itu, BI juga harus mengantisipasi penarikan dana asing atau capital outflow karena sentimen merebaknya Convid-19. BI harus bisa mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimilikinya untuk menopang perekonomian nasional.

Penulis adalah Ketua Badan Anggaran DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian