Menimbang Mencetak Uang

Oleh sebab itu, besaran yieldnya tersebut, tidak boleh lebih rendah dari biaya operasi moneter Bank Indonesia, agar tidak menimbulkan kerugian bagi Bank Indonesia, serta tidak menyebabkan modal BI lebih rendah 10 persen dari kewajiban moneternya.

Hal ini juga merupakan bentuk sharing the pain yang bisa dilakukan oleh BI, dalam menghadapi kondisi kegentingan yang memaksa tersebut.

Quantitative Easing Darurat

Dalam keadaan dunia dilanda krisis, tidak mudah bagi pemerintah mencari sumber-sumber pembiayaan baik di pasar domestic maupun pasar internasional. Semua Negara sedang menarik ikat pinggang, sangat berhemat untuk mengatasi tekanan ekonomi di Negara mereka masing-masing.

Kebijakan mencetak uang atau Quantitative Easing yang dilakukan oleh Bank Indonesia tersebut hanya dilakukan sementara.

Baca :  4 Ancab Muslimat NU Pilih Bambang-Said

Kebijakan ini untuk menghadapi potensi krisis terhadap perekonomian dan sistim keuangan global dan domestik akibat dampak wabah Covid-19. Pemerintah memerlukan pembiayaan yang besar untuk mengantisipasi dampak ekonomi dan keuangan yang ditimbulkanya.

Bank Indonesia selaku otoritas moneter memiliki peran yang signifikan dalam membantu Pemerintah menyediakan kebutuhan pendanaan yang besar.

Selain tetap fokus pada misi kemanusiaan menyelamatkan nyawa dan kesehatan warga negara, penyelamatan terhadap sektor perbankan dan dunia usaha juga penting, untuk memastikan bahwa program pemulihan (recovery) ekonomi bisa berjalan cepat, sehingga kehidupan masyarakat bisa kembali normal.

Penulis adalah Ketua Badan Anggaran DPR RI yang Juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Bidang Perekonomian

Baca :  Bambang-Said Usung APBD Responsif Gender