Menyambut Era Suku Bunga Rendah

Domestic update

Dari dalam negeri, ada empat isu yang disampaikan oleh Ezra. Pertama, kondisi domestik yang membaik. Hingga akhir Juli 2019, pasar saham dan obligasi Indonesia mencatatkan kinerja positif, yaitu 3,16% dan 9,54% secara berurutan. Sementara nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menguat 2,56% pada periode yang sama.

Ekonomi Indonesia lebih terinsulasi dari konflik dagang global, karena konsumsi domestik lebih dominan dibandingkan ekspor-impor. Selain itu, membaiknya peringkat utang Indonesia dalam dua tahun terakhir mendorong perbaikan premi risiko, yang tercermin pada penurunan credit default swap (CDS).

Sementara itu, stabilitas Rupiah menjadi kunci penting untuk meningkatkan sentimen investasi dan kepercayaan investor, baik bagi penanaman modal asing (PMA) maupun portofolio investasi.

Kedua, kebijakan suku bunga rendah. Sejalan dengan arah kebijakan bank sentral global, Bank Indonesia (BI) mulai melakukan pelonggaran moneter dengan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juli lalu. Hal ini dilakukan oleh BI untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Baca :  Citi Indonesia Jalin Kemitraan dengan Manulife Aset

MAMI yakin BI masih akan melakukan pemangkasan suku bunga di waktu mendatang, seiring dengan tingkat inflasi yang rendah dan adanya kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tercermin dari real interest rate Indonesia yang tinggi dan yield spread antara obligasi pemerintah Indonesia dengan US treasury yang masih lebar.

Peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut dapat tercapai dengan dukungan stabilitas neraca pembayaran (balance of payment/BoP). Stabilitas BoP dan perbaikan defisit neraca transaksi berjalan dapat dicapai dengan meningkatnya PMA.

Dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, penetrasi PMA terhadap PDB Indonesia merupakan yang terendah, yaitu sekitar 1,9%. Stabilitas politik dan reformasi kebijakan yang terjadi paska keputusan MK mengenai hasil pilpres diharapkan dapat mendorong masuknya PMA.

Baca :  Tren Depresiasi Rupiah Tak Ganggu Industri Asuransi

Ketiga, inflasi domestik yang terkendali, dipengaruhi oleh disinflasi global. Perekonomian global mengalami perlambatan dalam dua tahun terakhir akibat ketidakpastian konflik perdagangan dan kenaikan suku bunga global. Perlambatan ini membuat inflasi dunia juga turun, dan menjadi salah satu faktor pertimbangan bagi banyak bank sentral untuk memangkas suku bunga.

BI memperkirakan pergerakan inflasi domestik di tahun 2019 akan terjaga di bawah level 3,5% berkat disinflasi global yang disertai dengan perbaikan manajemen pasokan pangan domestik. Dalam setahun terakhir, di sepanjang Juli 2018-Juli 2019, perubahan inflasi di Indonesia hanya sebesar 0,16%.

Keempat, daya tarik pasar saham dan obligasi Indonesia semakin meningkat. Penurunan suku bunga yang disertai dengan kenaikan peringkat utang Indonesia yang konsisten dalam dua tahun terakhir membuat Indonesia menjadi destinasi investasi yang menarik, khususnya bagi pasar obligasi. Dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, Indonesia menawarkan real yield pasar obligasi yang cukup tinggi. MAMI memperkirakan, hingga akhir tahun 2019, yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6,5% – 7,0%.

Baca :  Asuransi Cakrawala Proteksi Bukukan Premi Rp 510 Miliar

Sementara itu, berkurangnya tensi gejolak politik dan harapan akselerasi policy reform mendorong penguatan pasar saham Indonesia.

Pasar saham berpotensi mengalami penguatan lebih lanjut dengan dukungan beberapa katalis, yaitu pemangkasan lanjutan suku bunga BI (untuk mendorong pertumbuhan ekonomi), stabilitas politik & reformasi kebijakan (untuk meningkatkan aktivitas investasi), kabinet pemerintahan baru yang solid terutama di bidang ekonomi (untuk mempercepat reformasi kebijakan, khususnya bidang energi dan industri, yang penting untuk memperbaiki neraca pembayaran), dan potensi pemotongan pajak pendapatan korporasi (untuk meningkatkan laba korporasi).