Meski Ada Serangan Covid-19, BKPM: Minat Usaha Tetap Tumbuh

Kantor BKPM/Kompas.com

JAKARTA-Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan minat usaha tetap tumbuh di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Alasannya, berdasarkan pantauan BKPM, perizinan yang masuk melalui Online Single Submission (OSS) masih cukup konsisten, terutama sepanjang Februari dan Maret 2020.

“Semenjak wabah ini terjadi, BKPM terus mengamati pergerakan kegiatan usaha di lapangan melalui data-data yang masuk ke sistem OSS. Ternyata sejauh ini minat pelaku usaha terpantau stabil. Ini bisa dibuktikan dari rata-rata permohonan NIB (Nomor Induk Berusaha) yang masuk, masih di atas 2.000 per hari,” kata Juru Bicara BKPM Tina Talisa dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, (26/3/2020)

Menurut data yang dipantau melalui Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi (Pusat Kopi) pada Kamis, 26 Maret 2020 pukul 11.00 WIB, jumlah pemohon NIB pada periode 1-29 Februari sebanyak 71.057 atau sebanyak 2.450 NIB/hari. Sementara pada periode 1-25 Maret sebanyak 57.325 atau 2.293 NIB/hari. Dengan demikian, tidak ada penurunan signifikan antara sebelum dengan setelah pandemi COVID-19.

Baca :  6 RS Swasta Ikut Tangani Pasien Covid-19 di Tangsel

Dalam catatan BKPM, di hari libur pun masih ada aktifitas permohonan di OSS walaupun nilainya tidak sebanyak di hari kerja. “Kami melihat ada permohonan 550 NIB walaupun di hari libur nasional. Jadi sistem OSS ini bisa diakses kapan saja, termasuk hari libur,” imbuh Tina.

Meski BKPM sudah menerapkan sistem Work from Home (WFH) atau bekerja dari rumah kepada sebagian besar pegawainya, pelayanan investasi masih tetap konsisten dilakukan dari rumah oleh para pegawai.

Terlebih, jumlah pemohon layanan perizinan dan nonperizinan investasi dapat dipantau melalui Pusat Kopi yang baru dirilis BKPM Senin (23/3/2020) lalu.

Disiapkan sejak tahun 2019 lalu, Pusat Kopi ditujukan sebagai pusat komando untuk pembuatan keputusan dalam mendukung respon kejadian-kejadian penting atau pengambilan kebijakan, termasuk fenomena yang terkait dengan dampak dari wabah COVID-19 terhadap proses perizinan dan kegiatan investasi.

Ditempat terpisah, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan penanganan pandemi virus Corona (COVID-19) oleh pemerintah dinilai menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor yang telah dan akan menanamkan modalnya di Indonesia. “Faktor COVID-19 ini tidak hanya penanganan global tapi juga penanganan secara domestik,” ujarnya, Rabu (25/3/2020).

Baca :  Terdampak Covid-19, Pendapatan AP I Anjlok

Menurut Fithra, investor tentu akan melihat sejauh mana upaya pemerintah mengendalikan penyebaran wabah virus Corona di dalam negeri. Pasalnya, penyebaran virus juga akan mempengatuhi aktivitas produksi.

Pertimbangan investor itu juga bisa dilihat berdasarkan indikasi-indikasi yang terjadi saat ini yakni dari pergerakan rupiah dan IHSG yang anjlok. “Meski bukan indikator paling akurat, tapi itu bisa dijadikan sebagai leading indicator karena yang menjadikan rupiah sampai tembus Rp17 ribu dan IHSG di level 3.000-an itu bukanlah faktor fundamental, tetapi karena faktor COVID-19,” katanya.

Fithra menuturkan, jika dilihat dari sisi fundamental, nilai tukar rupiah seharusnya masih berada di kisaran Rp13 ribu-Rp14 ribu-an. Hal itu lantaran kinerja ekspor pada Februari lalu cukup gemilang karena adanya peningkatan ekspor. “COVID-19 ini yang sangat mempengaruhi rupiah dan IHSG secara negatif, maka usaha pemerintah memitigasi COVID-19 akan sangat baik bagi perekonomian jangka menengah dan panjang,” imbuhnya.

Baca :  1 Lagi, Dokter PDP Covid-19 Meninggal Dunia

Fithra memprediksi capaian realisasi investasi sepanjang triwulan pertama tahun ini akan berat dicapai karena didera pandemi virus Corona. Bahkan diprediksi dengan mulai pulihnya China, di mana industrinya akan mulai beroperasi penuh pada April mendatang, investasi di Indonesia baru akan pulih sepenuhnya pertengahan tahun ini atau sekitar awal semester kedua.

Pasalnya, berkaca pada China, kondisi penyebaran COVID-19 baru akan mencapai puncak awal hingga pertengahan Mei 2020 mendatang. “Berdasarkan simulasi yang saya jalankan, setidaknya puncak COVID-19 ini 6-12 Mei dan mungkin baru melandai akhir Mei atau awal Juni. Di China grafiknya begitu sejak Desember awal kasus, baru April ekspektasi mulai beroperasi penuh,” pungkasnya. ***

Sumber: Antaranews.com