Mgr. Harun Yuwono Pr Dorong Pemuda Katolik Berpolitik Secara Bermartabat

Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Harun Yuwono Pr (tengah berbatik) dan Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung, Marcus Budi S (jaket kuning, sebelah Mgr. Harun Yuwono Pr)

BANDAR LAMPUNG-Untuk melawan politik yang menghalalkan segala cara, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Harun Yuwono Pr mengingatkan kisah Lysistrata yakni cerita Yunani kuno yang ditulis Aristhophanes pada tahun 411 SM. Cerita Lysistrata itu disampaikan Mgr. Harun Yuwono Pr kepada peserta pertemuan Organisasi Pemuda Katolik se Komisariat Daerah Lampung yang diikuti 50 (lima puluh) kader yang merupakan wakil dari 12 Komisariat Cabang di Hotel Arinas, Bandar Lampung, Sabtu (11/8).

Lysistrata adalah nama perempuan luar biasa dengan ide brilian yang dikisahkan berupaya menghentikan perang Pheloponnesia antara Sparta – Athena. Upaya yang dilakukan adalah dengan menyerukan dan mendorong para perempuan untuk tidak melakukan hubungan intim dengan suami, tentara hingga jenderal perang.

“Para perempuan dari Athena dan Sparta akhrinya sepakat dengan ide Lysistrata dan menyatakan mogok seks hingga para tentara dan jenderal perang menghentikan perang,” terangnya.

Kisah Yunani kuno ini digunakan Uskup Tanjungkarang ini sebagai ilustrasi untuk menjelaskan pendapat Albert Hirschman, ekonom dari Jerman yang pandangannya sangat mempengaruhi politik dunia.
Albert Hirschman yang juga pengarang buku ekonomi dan politik ini berpendapat bahwa nafsu berdaya-rusak seperti kekuasaan hanya bisa ditundukkan oleh nafsu lain yang lebih rendah daya-rusaknya yakni kepentingan pribadi (self-interest) terutama kepentingan ekonomi.

“Ada ungkapan yang bagus tentang politik dalam bahasa latin, yakni finis iustificat medium atau artinya tujuan menghalalkan segala cara. Jika berkuasa menjadi tujuan maka tanpa sadar, maka akan membangkitkan nafsu untuk menggunakan segala cara untuk untuk memiliki dan mempertahankannya,” ujar Harun Yuwono.

Oleh Albert Hirschman diilustrasikan, seperti dikutip Harun Yuwono, sekelompok orang dengan nafsu “membunuh” tanpa alasan rasional yang dapat karena perbedaan ras atau agama, dapat dihentikan jika pihak lain menyebarkan uang. Para pembunuh akan menghentikan aksinya untuk mengumpulkan uang yang berceceran di jalan daripada meneruskan pengejarannya.

“Dalam perspektif Albert Hirschman, dalam perspektif individual dan kepentingan pribadi, korban beruntung karena batal dibunuh. Sedangkan dalam perspektif universal dapat dikatakan, hasrat kekerasan atau violent passion dapat ditundukkan oleh kepentingan yang kurang ganas atau innocuous interest,” ujar Harun Yuwono.