JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (26/7) diperkirakan kembali melemah karena minimnya sentimen positif yang masuk ke pasar uang. “Rupiah diperkirakan bergerak dikisaran 10.200-10.300 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Kamis (25/7).
Menurut dia, faktor dominan yang menekan pergerakan rupiah berasal dari sentimen domestik. Hal ini terkait dengan data-data makro ekonomi Indonesia yang belum semua positif seperti defisit neraca berjalan yang terjadi selama 2 tahun berturut-turut dan espektasi inflasi yang masih tinggi.
Tekanan terhadap rupiah tidak terhindarkan seiring dengan masih tingginya permintaan dollar AS oleh korporasi menjelang akhir bulan. “Meningkatnya likuiditas Rupiah di dalam negeri seiring dengan permintaan uang pada puasa-lebaran juga mempengaruhi mata uang domestik dari dalam negeri,” kata dia.
Dia menambahkan pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi oleh melemahnya sejumlah mata uang Asia terhadap dollar AS. “Masih belum pulihnya sektor manufaktur Cina dan beberapa negara lainnya membuat mata uang Asia cenderung berada di area negatif,” kata dia.
Dari eksternal jelas dia, rupiah tertekan oleh data ekonomi AS dan China. Terakhir, data pembangunan rumah baru di AS memang mengalami tren penurunan. “Yang sudah ada kepastian, soal kebijakan quantitative easing yang masih terus berlanjut,” imbuh dia.














