OJK: Instrumen Hedging Tak Mumpuni Picu Capital Outflow Saat Pasar Bergejolak

Ketua Komisioner OJK, Wimboh Santoso

JAKARTA-Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Sanotoso menyebutkan, sejauh ini investor global mengeluhkan rendahnya variasi instrumen hedging di pasar keuangan Indonesia, sehingga strategi menarik dana  saat terjadi gejolak ekonomi menjadi pilihan asing.

Dia menyebutkan, upaya untuk memperdalam pasar keuangan harus dilakukan dengan meningkatkan variasi instrumen investasi yang memenuhi kebutuhan pasar, termasuk penguatan instrumen hedging.

“Selama ini instrumen hedging kita belum mumpuni, terutama pada hedging nilai tukar,” ujar Wimboh dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020 di Jakarta, Senin (19/10).

Guna meredam volatilitas di pasar, Wimboh berharap agar para pelaku pasar berperan untuk menciptakan market deepening dengan meningkat supply dan demand.

Namun, jelas dia, upaya meningkatkan variasi instrumen investasi dan jumlah investor harus dibarengi dengan penguatan instrumen hedging nilai tukar, hedging suku bunga maupun hedging default.

Dia menyatakan, pada awal tahun ini OJK memiliki optimisme yang tinggi terhadap pasar modal domestik, karena meredanya isu ketegangan perdagangan antara AS dan China, serta adanya proyeksi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tetapi, ada tamu yang tak diundang, yaitu Covid-19,” imbuhnya.

Sehingga, lanjut dia, pada 24 Maret 2020 posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level terendah 3.937, padahal pada Januari 2020 berada di atas 6.000.

“Sekarang, IHSG sudah kembali ke atas 5.000. Sehingga, ini membuat kami bertambah yakin industri pasar modal akan lebih baik yang seiring juga dengan perbaikan ekonomi,” tutur Wimboh.

Secara garis besar, ungkap Wimboh, OJK akan lebih fokus menjaga pasar saham agar lebih dalam, agar kondisinya bisa lebih berdaya tahan terhadap gejolak ekonomi global maupun dalam negeri.

Dia menambahkan, saat ini pasar saham Indonesia sangat terbantu oleh aktivitas transaksi investor ritel domestik.

“Sekarang ini, sebesar 73 persen transaksi di pasar saham adalah dilakukan oleh investor ritel. Angka ini merupakan transaksi paling banyak untuk kurun lima tahun terakhir,” kata Wimboh sembari meminta agar terus melanjutkan penerapan digitalisasi dalam upaya meningkatkan akses bagi investor untuk masuk ke bursa saham.