OJK: Perbankan Perlu Undang Asing Untuk Tambah Modal

KB Kookmin Bank

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, kondisi pandemi Covid-19 akan memicu peningkatan risiko kredit yang berujung pada peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL).

Karenanya, masuknya KB Kookmin Bank ke PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) tidak perlu menjadi kontroversi di industri perbankan nasional.

Menurut Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto, struktur perbankan nasional berdasarkan kepemilikan menunjukkan bahwa bank domestik memiliki pangsa sebesar 73 persen yang sebesar 43 persen dimiliki bank BUMN.

Sedangkan kepemilikan asing di industri perbankan Indonesia hanya sebesar 27 persen.

“Pada dua sampai empat tahun terakhir kepemilikan asing tidak beranjak dari 27 persen. Terakhir, kepemilikan tertinggi sebesar 30 persen. Jadi, kita memang perlu meng-invite asing, karena perlu modal,” kata Anung dalam diskusi virtual InfobankTalkNews bertajuk “Peran Pemilik dalam Mendukung Kinerja Bank: Potret Modal dan Likuiditas di Era New Normal” Jakarta, Kamis (9/7).

Anung menyebutkan, saat ini struktur industri perbankan nasional yang terdiri atas 110 bank justru dikuasai oleh sejumlah kecil bank dengan market share besar, yakni Bank BUKU 4 memiliki pangsa sebesar 58,24 persen, BUKU 3 sebesar 30,44 persen, BUKU 2 sebesar 10,82 persen dan sisanya Bank BUKU 1.

Baca :  Injeksi Modal Asing ke BBKP Jadi Sentimen Positif di Industri Perbankan

“Dampak Covid-19 telah menekan risiko kredit, sehingga NPL per akhir Mei 2020 sebesar 3,01 persen,” ujarnya.

Berdasarkan data OJK, hingga 18 Mei 2020 ada sebanyak 95 bank yang telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur dengan nilai outstanding Rp458,8 triliun.

Maka, kondisi ini sekaligus mencerminkan bahwa industri perbankan membutuhkan tambahan modal besar untuk menjaga ketersediaan likuiditas di tengah kondisi pandemi Covid-19, sehingga tidak perlu untuk menampik tambahan modal dari asing.

“Menghadapi tekanan kualitas kredit, bank akan melakukan penguatan internal untuk menjaga kualitas kredit serta melakukan percepatan penyelesaian kredit bermasalah,” kata Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), Rivan A Purwantono pada kesempatan yang sama.

Berdasarkan data biro riset Infobank yang dipublikasikan, hingga April 2020 tingkat risiko kredit perbankan meningkat menjadi 2,89 persen (gross), sedangkan loan to deposit ratio (LDR) menurun menjadi 91,55 persen.

“Setor modal bagi bank adalah harus. Kita harus menghargai pemilik bank yang rajin setor modal. Selain memperkuat bank, sekaligus menunjukan komitmen dalam membesarkan bank. Bank merupakan bisnis jangka panjang dan padat modal,” ucap Chairman Infobank Institute, Eko B Supriyanto.

Baca :  OJK Setujui Kookmin Jadi Pemegang Saham Pengendali BBKP

Sementara itu, menurut Anggota Komisi XI DPR, Fathan Subchi mengaku sepakat dengan sikap optimisme Rivan yang meyakini bahwa kinerja dan performa BBKP akan meningkat pasca KB Kookmin Bank menyuntikkan modal.

“Bank di Indonesia banyak yang sudah diambil asing, jadi kita tidak perlu kontroversi soal hal ini,” imbuhnya.

Fathan mengungkapkan, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) saat ini kinerja dan performanya semakin membaik.

“Bank Bukopin menjadi kontroversi karena terjadi di masa pandemi Covid-19 yang telah menekan berbagai sektor usaha,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, bank asing telah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia atau tepatnya pada 1746, yakni, De Bank Van Leening. Hingga saat ini ada 42 bank umum di Indonesia yang dalam status kepemilikan asing.

Bank dalam kepemilikan asing yang asetnya di atas Rp100 triliun adalah PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), BNGA, PT Maybank Indonesia Tbk (MAYA), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT UOB Indonesia, BNLI dan MUFG Bank.

Baca :  OJK Setujui Kookmin Jadi Pemegang Saham Pengendali BBKP

Menurut ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Ryan Kiryanto, permodalan sangat penting bagi keberlangsungan bisnis bank di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang telah memicu munculnya ketidakpastian berusaha.

Dia menyatakan, ada dua cara yang bisa dilakukan bank untuk menjaga kecukupan modalnya, melalui suntik modal langsung dari pemegang saham pengendali (PSP) atau bisa juga dengan keputusan tidak membagikan dividen.

Ryan mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang telah melakukan sejumlah kebijakan terkait pelonggaran moneter. Dia memandang, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan menurun dari 23 persen menjadi 21 persen per akhir Maret 2020. Artinya, sejauh ini banyak bank yang mengeluarkan dana pencadangan.

Dia mengingatkan, saat ini bank harus menjaga kualitas aset maupun ketersediaan likuiditas

“Karena, likuiditas itu diibaratkan seperti darah, maka di situlah ada vitamin, nutrisi dan sebagainya. Jika bank likuiditasnya kering, maka bisa berbahaya pula secara industri,” ujar Ryan.