Olga Lydia: Antara Panggung Selebritas dan Sosial

photo dok Tempo

Sosok aktris cantik Olga Lydia tidak asing lagi di panggung selebritas. Sepak terjangnya tidak berhenti di layar kaca. Olga masih memiliki seabreg aktivitas lain, seperti urusan sosial, kemanusiaan hingga politik.

GADIS penyuka sayuran organik dari kaki Gunung Gede ini baru saja pulang dari ajang Festival Film Cannes 2015. Olga merasa takjub tentang megahnya pelaksanaan festival film paling bergengsi di dunia itu. Ia juga turut merasakan karpet merah Festival Film Cannes. Dalam bahasa Perancis, festival ini dikenal dengan Le Festival International du Film de Cannes. Selama satu minggu penuh Olga mengikuti festival film tersebut. “Ini pengalaman Cannes saya yang pertama. Semua saya lakukan dengan gaya penuh percaya diri sambil ngga terlalu ngerti juga (tdk usah di italic),” katanya sembari tertawa. Di festival ini, Olga tidak datang sendiri. Ia bersama rekan sejawatnya, yakni Robby Ertanto, Angga Dwimas Sasongko, dan Adriyanto Dewo. “Sebetulnya, sineas Indonesia sudah sering ikut Festival Film Cannes. Tapi kali ini kita kerja kolektif, misinya selain film, juga promosi budaya dan pariwisata (tdk usah di italic),” jelas bintang film Soegija ini.

Menurut Olga, di Festival Film Cannes kali ini sineas Indonesia juga turut meramaikan salah satu eventnya. “Bukan kompetisi, melainkan Semaine Internationale de la Critique atau dikenal juga dengan Critics Week yang dibuat oleh para kritikus film Perancis sejak 1962,” tutur alumna Fakultas Tenik Sipil Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini. Film pendek karya Lucky Kusnandi bertarung setelah lolos dari seleksi 1800 film pendek lain, The Fox Exploits The Tiger’s Might (tdk usah di italic). Olga berharap Film Indonesia suatu saat bisa lebih dikenal di dunia internasional.

Olga tidak hanya menjadi aktris, tetapi juga mensutradarai dan memproduseri sejumlah film. Ia juga tengah mempersiapkan proyek film baru. Dalam film itu, ia melibatkan sejumlah pihak, salah satunya dari pihak Hollywood. “Saya lagi produksi film. Saat ini lagi proses menggondok skenario. Skrip ditulis Jujur Prananto. Sekarang lagi proses terjemahan untuk dikirim ke Hollywood,” ucap Olga. Ia mengakui jika industri perfilman di Hollywood memang jauh lebih bagus dari Indonesia. Sehingga, dirinya termotivasi untuk bekerjasama dengan pelaku industri perfilman di Hollywood. olga

 

Sisi lain

Dunia selebritas telah membuka pergaulan Olga pada banyak kelompok. Tak ayal wajah Olga kerap menghiasi media sebagai aktivis dan pembela kemanusiaan. Ia juga bergabung dengan relawan Koalisi Aksi Masyarakat Sipil Antikorupsi. Ia ikut membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Olga juga tidak setuju dengan hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba. Ia menyarankan perlu lebih banyak kampanye untuk menekan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, khususnya bagi generasi muda. “Mereka bisa keren tanpa narkoba. Narkoba nggak ada manfaatnya,” tukasnya. Ia menambahkan perlu diadakan riset, apakah masih perlu ada hukuman mati di Indonesia.

Meski sering terlibat dalam sejumlah aktivitas politik, Olga enggan menjadi politikus. Olga mengaku lebih nyaman menjadi seorang aktivis. Pada hajatan politik pemilu presiden tahun 2014, Olga menjadi salah satu penggerak relawan “Konser Salam Dua Jari” di Gelora Bung Karno, Jakarta. “Saya menjadi aktivis relawan saja. Kalau terjun ke politik sih enggak lah, belum terpikirkan,” kata Olga. Ia juga tidak menampik bahwa memiliki hasrat menjadi anggota DPR atau kepala daerah. Namun, Olga merasa masih menikmati perannya sebagai aktivis yang bebas menyuarakan aspirasi banyak orang.

“Sebenarnya sih rasa keinginan jadi kepala daerah, anggota dewan, memang ada. Apalagi kalau lihat kondisi daerah yang pendapatan per kapitanya rendah. Tapi saya masih enjoy jadi aktivis dan bisa independen,” paparnya.

olga-2

Soegija

Terlibat dalam film Soegija memiliki kesan tersendiri bagi Olga. Sosok Soegija, demikian Olga, tidak hanya seorang Uskup tetapi juga pejuang kemanusiaan. Dalam film Soegija, Olga memerankan perempuan yang diculik oleh tentara Jepang. Sebelumnya Olga tidak pernah merasakan suasana peperangan dalam hidupnya karena lahir setelah Indonesia merdeka. Soegija adalah Uskup pribumi pertama. Ia bernama lengkap Mgr Albertus Soegijapranata SJ.

Olga berperan sebagai ibu muda yang dibawa paksa tentara Jepang dari rumahnya. Ia berpisah dengan anak semata wayangnya, bernama Ling Ling. Sebagai seorang perempuan ia tak berdaya melakukan perlawanan. “Zaman saya enggak ada perang. Tapi, pada saat saya hadir di set, saat itulah saya melihat perang,” ucapnya.

Olga seperti dibawa ke zaman perang. Saat Indonesia berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Situasi saat itu sangat membuatnya miris. Banyak orang yang menderita dan kelaparan. “Saya tidak bisa mengerti dengan cara apa pun untuk mencapai tujuan dengan kekerasan. Dalam perang hanya ada kesedihan yang mendalam,” kata Olga lirih.

Ia sangat senang bisa terlibat dalam pembuatan film Soegija. Tatkala syuting adegan tentara Jepang membawanya secara paksa dari rumah ke atas truk. Saat itu, hujan turun. Tetapi, Garin Nugroho selaku sutradara memutuskan syuting terus berlanjut. “Mas Garin bilang take, karena momennya bagus. Itu hujan beneran loh. Dan, hasilnya kelihatan dramatis,” kisah Olga dengan mimik sedih.

 

Hadiah Paskah

“Terima kasih ya, sudah memberi makna Paskah buat kami,” tulis Olga di akun twitter-nya. Ceritanya, hati Olga tersentuh oleh penampilan murid-murid SD Luar Biasa Tri Asih Jakarta, saat siaran langsung di televisi Indosiar bertajuk “Perayaan Ekaristi Paskah bersama Paus Fransiskus di Vatikan”.

Pada acara itu, Olga didapuk untuk menjadi pemandu acara yang menghadirkan tokoh Katolik, Protestan, dan Islam. Acara tersebut dimeriahkan oleh paduan suara SD Luar Biasa Triasih dan SD Ricci II Tangerang Selatan. Ketersentuhan hatinya, tidak semata penampilan anak-anak Tri Asih bernyanyi. “Perjuangan mereka untuk menyanyikan lagu Que Sera-Sera hebat sekali,” pujinya.

Olga bercerita, pada awal Februari, dari 20 anak, hanya tiga yang bisa menyanyikan lagu itu. Belum lagi, mereka juga butuh waktu untuk beradaptasi, dengan beberapa kali berlatih bersama di studio. “Mereka melihat kamera dan segala kegiatan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama proses syuting,” terangnya.

Tentunya, Olga juga memberi apresiasi tinggi atas perjuangan para guru Tri Asih dan tim Indosiar, yang dengan sabar membimbing mereka hingga bisa menyanyi dengan lancar. Olga pun ingat kata-kata bijak dari buku bertajuk Makan Siang Natal: “Tidak ada orang terlalu miskin untuk tidak dapat memberi.”

 

 

Biodata

Nama  : Olga Lydia
Lahir  : Jakarta, 4 Desember 1976

 

Pendidikan:

S1 Fakultas Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (1994)

 

Pekerjaan:

Aktris

Produser film

Presenter

Model catwalk, video klip, dan iklan

 

Filmografi:

12 AM (2005)

Ekskul (2006)

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010)

Soegija (2012)

12 Menit (2014)

 

Tulisan ini diambil secara utuh dari buku “Kiprah Tokoh Katolik Indonesia” yang ditulis Benny Sabdo. Redaksi mendapat persetujuan dari penulis untuk mengutip isi buku yang diterbitkan oleh Penerbit PT Kanisius ini.