Omnibus Law Perpajakan Bisa Genjot Potensi Cukai Plastik Hingga Rp3 Triliun

Rudi Hartono Bangun Fraksi Nasdem

JAKARTA-Rancangan Undang-undang Omnibus Law Perpajakan sudah diserahkan ke DPR. Salah satu pointnya, pemerintah menambah objek cukai, seperti cukai plastik hingga soda, tanpa persetujuan DPR RI.

Dengan cara ini, maka penerimaan cukai plastik bisa digenjot semaksimal mungkin. Penerapan cukai atas kantong plastik akan memberikan kepastian terkait pungutan yang terjadi selama ini.

“Jadi wajar pajak cukai yang diambil negara dipergunakan kembali ke rakyat kembali,” kata Anggota Komisi XI DPR RI Rudi Hartono Bangun di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Rudi memperkirakan potensi dari cukai plastik bisa mencapai sekityar Rp 3 triliun pertahun. Itu hanya dari plastik kresek dan belum dari plastik bahan minuman lainya.

Menurut Rudi, potensi penerimaan cukai plastik diprediksi cukup bagus. Pasalnya, plastik ini menyangkut semua kehidupan manusia. Bahkan sejak dari bayi hingga dewasa.

Baca :  Presiden Ingin Investor Dilayani Dengan Baik Agar Investasi Berbuah

“Lihat makanan yang kita beli pasti pakai plastik, juga minuman yang kita minum juga pakai bahan plastik,” tegasnya.

Begitupun dengan alat alat rumah tangga, lanjut anggota Fraksi Nasdem, serta alat-alat tulis kantor dan pelengkapnya. Itu semua rata rata dari bahan plastik dan dampak sosial dari plastik sangat buruk.

“Efek buruknya, plastik tidak dapat terurai seperti kertas. Sampahya mengotori lingkungan dan pemerintaah yang mengeluarkan biaya dampak sosial akibat plastik yang di pakai masyarakat,” tuturnya.

Dalam kesempatan, Legislator dari Dapil Sumut III ini mengusulkan plastik harus dikenai cukai. Namun dengan tarif harga yang sangat murah. Alasannya, jutaan manusia Indonesia pasti mengunakan plastik yang gilirannya jadi limbah.

Baca :  Peserta Tax Amnesty Sudah 170 Ribu, Uang Tebusan Tembus Rp 44,4 Triliun

Rudi menjelaskan potensi penerimaan cukai plastik bisa dimaksimalkan di tengah-tengah situasi ekonomi yang berjalan slow down. Apalagi merebaknya Virus Corona menjadi faktor yang membuat ekonomi dunia ikut terpengaruh. ***