Orang-Orang Hebat adalah Matahari

Tuesday 19 Nov 2013, 6 : 07 pm
by

Judul Buku: Orang-orang Hebat; Dari Mata Kaki ke Mata Hati

Penulis                 : Emanuel Dapa Loka

Kata Pengantar : Sofjan Wanandi dan R. Priyono

Epilog                    : Jaya Suprana

Penerbit              : Altheras Publishing (Juli 2013)

Tebal Buku          : XXV+223 halaman

Harga                    : Rp50.000,-

 

Apa kriteria seseorang disebut hebat? Menurut Sofjan Wanandi pada kata pengantarnya dalam buku ini,  seseorang bisa disebut hebat bukan karena gagasannya, bukan pula karena omongannya, tidak juga karena banyak pengikut ataupun juga karena kekayaannya. Orang hebat adalah mereka yang melakukan pekerjaan besar, namun dengan rendah hati menyadari bahwa tanpa bantuan orang lain, pekerjaan itu tidak mungkin berhasil.

Kerendahhatian yang seperti itu tentu saja menuntut jiwa besar, menuntut profesionalisme dalam bekerja, memerlukan ribuan jam terbang dalam pekerjaannya, tidak menghindari risiko bahkan rela membayar “korban”. Korban adalah biaya yang harus dibayarnya, bukan meminta orang lain yang membayarnya. Atau dengan kata lain, ada “beyond the mission” yang berdasar pada “beyond the vision”.

Sementara menurut mantan Kepala BP Migas R. Priyono, orang hebat adalah orang yang secara total mengabdi bagi rakyat, bangsa dan negara tanpa meminta perhatian atau penghargaan khusus. Bahkan orang hebat itu merelakan dirinya bagi kehebatan orang lain. Pak Pri mengambil contoh dari kisah Ramayana. Karena Sukasranalah, Sumantri menjadi orang penting di Kerajaan Maespati. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Sukrasna dengan segala kemampuannya dan wajahnya yang buruk, yang menyebabkan kakaknya Sumantri malu apabila sang adik datang—dan karenanya dia tidak dibolehkan datang ke istana—mengabdi tanpa kenal batas. Yang “mengenaskan”, Sukrasna kemudian mati  terbunuh oleh panah Sumantri yang tadinya hanya untuk menakut-nakuti adiknya agar tidak turut serta ke istana.

Di mata Emanuel Dapa loka, orang hebat adalah orang yang dalam hidupnya tidak berfokus pada dirinya sendiri. Mereka mau keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam hidup konkret sesama dan menjadi teman seperjalanan di bawah terik mentari dan curah hujan. Selain dalam diri sosok-sosk dalam buku, pada cover semangat tersebut tervisualisasikan juga pada sampul buku. Tampak sebuah telapak kaki raksasa, hati, dan pohon yang tengah bertunas. Gambar ini menunjukkan laku hidup dari seorang yang peduli sesama. Dia berjalan menyusuri kehidupan konkret sesamanya yang disimbolkan dengan telapak kaki yang meraksasa. Dalam penyusurannya, ia mendengarkan bisikan hati nurani lalu terdorong berbuat secara konkret. Ya, kakinya yang bermata menjejak bumi, hati nuraninya yang fajar menyoroti dunia sekeliling, lalu lahirlah peduli dalam simbol tunas pohon.

Orang-orang hebat yang penulis sebut juga “matahari untuk Indonesia” tersebut antara lain adalah Franky Welirang (bos Indofood), Honardy Boentario (pengusaha pertambangan), Andre Graff (tukang sumur dari Prancis), Romo Franz Magnis-Suseno (guru besar filsafat dan ahli etika Jawa), Romo Vincentius Kirdjito (peraih Maarif Award), St. Kartono (guru dan kolumnis), Agust Dapa Loka (guru dan novelis), Aloysius Giyai (kepada RSU Abepura), Anthony Dio Martin (motivator), dan Zuhairi Misrawi (intelektual muda NU).

Mereka berasal dari latar belakang keluarga, pendidikan yang berbeda-beda. Medan karya mereka pun  berbeda-beda, namun mereka memiliki satu roh, yakni ingin hidup mereka bermakna bagi sesama.

Andre Graff misalnya. Dia meninggalkan kenyamanan hidup di Prancis “hanya” untuk menjadi penggali sumur air bagi masyarakat miskin di Sumba, NTT. Di negaranya, dia adalah pengusaha pariwisata dan pelatih pilot balon panas. Kini sudah hampir sepuluh tahun dia tinggal di Sumba. Yang dia pikirkan setiap hari adalah bagaimana menemukan sumber air baru dan menggalinya untuk masyarakat miskin (baca di halaman 55-66).

Contoh lain Romo Franz Magnis-Suseno. Dia meninggalkan Jerman negaranya untuk menjadi misionaris dan mengembangkan studi filsafat di Indonesia. Kemudian kita mengenal Magnis dari hasil karya olah intelektualnya dalam bentuk buku, artikel, diktat, seminar, dan lain-lain. Dia adalah bidan bagi lahirnya STF Driyarkara Jakarta. Bahkan untuk kecintaannya pada Indonesia, dia melepaskan status kewarganegaraan Jermannya dan menjadi WNI. Baca kisahnya di halaman 77-86).

Buku yang sudah beredar di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya ini menghadirkan kembali semangat bela rasa terhadap orang lain. Penulis melalui para tokoh tersebut hendak membangun semangat pantang menyerah atas berbagai hambatan dalam menciptakan prestasi yang berguna bagi sesama.

Di saat Indonesia mengalami krisis nilai dan dekadensi moral akibat korupsi dan fanatisme kelompok yang makin menguat, buku ini menegaskan bahwa masih ada saja sosok-sosok yang tulus bekerja bagi kemajuan bersama. Ya, bagi Indonesia yang lebih baik.

 Peresensi Alex Marten, penikmat buku dan pengamat sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Sri Mulyani Layak Jadi Menko Perekonomian

JAKARTA–Kehebatan dan kepiawaian sosok Sri Mulyani Indrawati (SMI) dinilai mampu

Penjualan Eceran Januari 2019 Tumbuh Tinggi

JAKARTA – Penjualan eceran tumbuh tinggi pada Januari 2019. Hal tersebut