Para Spekulan Sudah Mulai Melepas Dolar AS

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara

JAKARTA-Komitmen pemerintah untuk terus melakukan reformasi di structural reform melalui paket kebijakan ekonomi Jilid I,II dan III berdampak positif kepada ekspektasi orang. Hal ini terlihat semakin banyak orang yang menjual dolar-dolar yang mungkin selama ini menumpuk dolar untuk spekulasi.

”Kami mengapresiasi paket kebijakan ekonomi pemerintah ini. Kami juga melihat kebijakan di paket kedua yang untuk menambah suplai valas di pasar spot dan suplai  valas di pasar forward ini juga sudah terlihat efeknya,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, seperti dikutip dari situs resmi pemerintah di Jakarta, Kamis (8/10).

Menurut Mirza, membaiknya situasi pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir sebagaimana terlihat dari menguatnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS, merupakan gabungan dari faktor eksternal dan faktor domestik.

Baca :  Capai 0,28%, BPS: 11 Kelompok Bikin Picu Inflasi Pebruari 2020

Faktor eksternal jelasnya, angka-angka ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan agak sedikit melemah,  terutama di angka unemployment-nya sehingga konsensus dari kenaikan suku bunga AS sekarang ini mulai bergeser. Yang tadinya dikhawatirkan kenaikannya mungkin bulan Oktober mungkin bulan Desember sekarang bergeser mungkin di kuartal satu bahkan mungkin di kuartal dua.

“Nah, ini membuat di pasar keuangan terjadi pembalikan ya beberapa investor, dan juga mungkin beberapa spekulan yang tadinya beli dollar lebih awal mereka melakukan cut loss di, di pasar keuangan. Ini juga terjadi di, di kita lihat di selain di Indoensia juga di Malaysia di negara-negara emerging market yang lain,” tutur Mirza.

Baca :  Empat Langkah Strategis Pengendalian Inflasi di Jakarta

Sementara faktor internal, lanjutnya, respons positif pasar melihat dari komitmen pemerintah melakukan deregulasi. Paket kebijakan ekonmi Jilid I, II dan III disambut positif yang menunjukkan bahwa pemerintah serius melakukan structural reform.

“Nah, structural reform ini mulai dari pariwisata, juga dari bagaimana perizinan-perizinan di berbagai sektor, ini tentu dalam jangka menengah panjang akan menurunkan inflasi, dan juga dalam jangka menengah panjang akan menambah suplai valas di Indonesia,” kata Mirza.

Positifnya respon pasar atas paket ekonomi tercermin pada menguat pasar valuta asing rupiah yang cukup signifikan tiga hari ini. Demikian juga  pasar obligasi negara yang menyambut sangat positif.

“Yield obligasi negara yang rate-nya sempat naik mendekati 10% per hari ini sekitar 8,4%. Artinya, kalau rate-nya turun, ongkos pembiayaan pemerintah untuk membiayai APBN itu juga artinya turun ya membaik,” pungkasnya.

Baca :  BI Sempurnakan Ketentuan GWM Dalam Rupiah dan Valas