Pasar Percontohan Marabahan Menjadi Bandar Dagang

Tuesday 7 May 2013, 6 : 26 pm
by

BARITO KUALA-Kementerian Perdagangan telah merevitalisasi 447 unit pasar tradisional  yang terdiri dari 53 unit pasar percontohan dan 394 unit pasar non percontohan sejak tahun 2012 untuk meningkatkan citra pasar tradisional dalam menghadapi  pertumbuhan toko modern yang cukup pesat. Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi meresmikan pasar percontohan yang telah direvitalisasi oleh Kemendag  yaitu Pasar Marabahan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Wamendag  berharap bahwa dengan direvitalisasi,pasar Marabahan  dapat selalu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.“Pasar ini mempunyai peranan yang sangat strategis, berada di jantung kota Marabahan dan menjadi bandar dagang bagi ekspor impor dari Kalimantan ke negara lain, sehingga dapat menunjang perekonomian  nasional yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,”ujar Bayu Krisnamurthi seperti dilansir www.kemendag.go.id di Jakarta, Selasa (7/5).

Berdasakan hasil evaluasi kinerja 10 pasar percontohan yang dibangun tahun 2011, omzet transaksi secara bertahap mengalami peningkatan sebesar 33% -85% dibandingkan omzet  sebelum direvitalisasi. Dari 447 unit pasar tradisional yang direvitalisasi melalui dana Tugas Pembantuan, 4 unit pasar tradisional diantaranya berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan anggaran sebesar  Rp 24 miliar,termasuk didalamnya revitalisasi Pasar Marabahan sebesar Rp. 15 miliar yang direvitalisasi pada tahun 2012.

Dalam kunjungan ke Pasar Marabahan, Wamendag juga meninjau harga bahan pokok yang umumnya cukup stabil, seperti minyak goreng curah Rp 9.000/kg;  daging sapi Rp80.000/kg;daging ayam broiler Rp 25.000/kg;telur ayam ras Rp 15.000/kg; dan cabe rawit Rp 148.000/kg.

Sebagian bahan pokok justru mengalami penurunan,seperti beras Rp 5.000/kg;gula pasir Rp 12.000/kg;cabe merah keriting Rp 35.000/kg;bawang merah Rp 25.000/kg; dan  bawang putih Rp 14.000/kg. Namun terdapat 1 komoditas yang mengalami kenaikan yaitu tepung terigu sebesar Rp 7.500/kg.

Kota Marabahan yang merupakan ibukota Kabupaten Barito Kuala mempunyai letak strategis, berada di persimpangan Sungai Barito dan Sungai Nagara yang menghubungkan tiga daerah yaitu Hulu Barito Provinsi Kalimantan Tengah, Margasari (Batu Enam) dan Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan.

Sejak  zaman dahulu, pada titik strategis persimpangan tiga sungai tersebut terjadi interkoneksi perdagangan antar kecamatan, kabupaten dan provinsi, dengan jenis komoditas sesuai dengan perkembangan zaman. Aktivitas interkoneksi perdagangan tersebut merupakan implementasi Konsep Sabuk Koridor Wilayah Niaga. Seiring perkembangan zaman dan pegeseran roda transportasi sungai ke transportasi darat, berdirilah Pasar Baru Marabahan (pasar kering) dan Pasar Wangkang (pasar basah).

Pasar Marabahan di Kabupaten Barito Kuala berlokasi sekitar 38 km dari ibu kota Provinsi, yaitu Banjarmasin. Pasar ini  dibangun pada tahun 1972 dengan lahan seluas 4.027 m2. Pedagang  di pasar ini berjumlah198 orang dan menjual komoditas yang bersifat kering (bahan pokok) dan baju, sementara komoditas basah berada di pasar berbeda di lokasi yang berdekatan.

Pasar ini memiliki 96 unit kios, 60 unit los, 7 unit  toilet, 4 unit CCTV, 1  unit pos jaga, 1 unit tempat sampah, 1 unit kantor UPTD, mushola, area parkir dan area penghijauan. Dalam  kesempatan kunjungan ke Kabupaten Barito Kuala kali ini, Wamendag  juga berkesempatan mengunjungi gudang Sistem Resi Gudang (SRG).

Gudang ini  mulai beroperasi pada 10 Oktober 2010 dan diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan pada 17 Desember 2010.

Menurut Wamendag, pelaksanaan SRG telah memberikan manfaat serta mampu meningkatkan daya saing petani dan koperasi usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM). “Hal tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah Gabah yang disimpan di gudang, jumlah Resi Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang, serta Kredit Skema  Sistem Resi Gudang yang diperoleh  petani dengan tingkat tunggakan 0%,”jelasnya.

Namun, pelaksanaan SRG di daerah  terkadang masih menghadapi berbagai tantangan yang menjadikan SRG sebagai tawaran kesempatan belum teroptimalkan.

Untuk itu, pemahaman  dan dukungan antar pemerintah pusat, pemda, sektor swasta, serta pelaku usaha perlu ditingkatkan untuk membangun SRG  yang berhasil guna.  Selain itu, Pengelola Gudang juga harus diberi pemahaman dan agar dapat menumbuhkembangkan SRG di daerahnya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Intan Fauzi : Program Swasembada Pangan Belum Membumi

BOGOR-Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Intan Fitriana Fauzi SH,

Perkuat Bisnis Cicil Emas, BSI Gandeng Jamkrindo Syariah

JAKARTA-Bank Syariah Indonesia (BSI) melakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan