PDIP: Perlu Terobosan Kebijakan Menaikkan Angka Pertumbuhan 6%

5. Proyeksi nilai tukar dalam APBN 2020 diusulkan pada angka Rp 14.400. Angka ini lebih tinggi dari outlook tahun 2019 tahun Rp 14.425. Hal ini menunjukkan rupiah masih akan mengalami tekanan pada tahun 2020. Faktor eksternal kebijakan suku bunga (currency war) The Fed dan China akan tetap berdampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah 2020. Masih rentannya fundamental ekonomi nasional: lemahnya ekspor, arus modal investasi melambat, menjadi titik lemah rupiah periode sebelumnya dan tetap akan mempengaruhi kinerja rupiah tahun 2020.

6. Proyeksi harga minyak (ICP) dalam RAPBN 2020 diperkirakan USD 65 per barel, meningkat dibandingkan outlook APBN 2019 sebesar USD 63 per barel. Stabilitas harga minyak masih akan dipengaruhi oleh kondisi geopolitik terutama di timur tengah. Pemerintah harus terus memantau perkembangan kondisi geopolitik di wilayah Timur Tengah dan Afrika serta kebijakan OPEC untuk membatasi produksi diperkirakan menjadi faktor pendorong kenaikan harga minyak dunia.

Baca :  Meneropong Terobosan Kebijakan Kabinet Baru Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

7. Target lifting minyak pada RAPBN 2020 diperkirakan hanya akan mencapai 734 bpd, terus mengalami penurunan dibandingkan outlook tahun 2019 sebesar 754 bpd. Sementara target lifting gas pada tahun 2020 sebesar 1191 bpd mengalami peningkatan dari outlook 2019 sebesar 1.072 bpd. Hal ini menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir belum ada kebijakan yang signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan lifting minyak. Tren penurunan lifting migas dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh kondisi alamiah sumur-sumur produksi dan fasilitas operasi yang telah mature dan menua, sehingga produksi terus mengalami penurunan.

8. Target penerimaan negara pada RAPBN 2020 ditargetkan sebesar Rp. 2.221.548,5 Triliun. Mengalami peningkatan dari outlook 2019 sebesar Rp. 2.030.757,8 Triliun atau meningkat sebesar 8,58 persen. Penopang penerimaan berasal dari sektor perpajakan pada tahun 2020 diusulkan sebesar Rp. 1.861,8 triliun, mengalami peningkatan dari outlook 2019 sebesar Rp. 1.643,1 atau meningkat sebesar 11,7 persen. Dengan melihat kinerja penerimaan sektor perpajakan tahun 2019 yang sangat kedodoran, target tahun 2020 menjadi sangat optimis. Selain itu, perkiraan shortfall pajak sekitar 140-150 triliun hingga akhir tahun 2019. Reformasi perpajakan dan kebijakan tahun 2020 belum menyasar skema penggelapan pajak melalui aktivitas underground economy atau shadow economy.

Baca :  BTN Sabet Penghargaan MURI