PDIP: Perlu Terobosan Kebijakan Menaikkan Angka Pertumbuhan 6%

9. Proyeksi angka Tax Ratio dalam RAPBN 2020 diperkirakan sebesar 11,5 persen atau meningkat dibandingkan outlook 2019 sebesar 11,1 persen terhadap PDB. Pemerintah sepertinya kurang optimis terhadap penerimaan perpajakan nasional tahun 2020. Rendahnya target tax ratio tahun 2020 dikhawatirkan akan berdampak terhadap kebijakan defisit, dimana kebutuhan belanja dalam APBN semakin meningkat dan target kebijakan mengurangi defisit menjadi sebesar 1,76 % dari PDB. Reformasi perpajakan yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah, dalam rangkan melebarkan ruang fiskal (fiscal space) sebagai bentuk strategi penyehatan fiskal pada tahun 2020, belum terlalu optimal.

10. Target belanja negara pada RAPBN 2020 diusulkan sebesar Rp. 2.528,77 triliun. Angka tersebut, mengalami peningkatan dibandingkan outlook 2019 sebesar Rp. 2.341,3 atau mengalami peningkatan sebesar 7,4 persen. Belanja negara tersebut tergambar dalam belanja pusat tahun 2020 sebesar Rp. 1.669.984,3 dibandingkan outlook 2019 seebsar Rp. 1.527,1. Transfer daerah dalam RAPBN 2020 sebesar Rp. 786.790 mengalami peningkatan dibandingkan outlook 2019 Rp. 744,586,4. Adapun Dana Desa pada RAPBN 2020 sebesar Rp. 72 Triliun, mengalami peningkatan dibandingkan outlook tahun 2019 sebesar Rp. 69,83 Triliun atau mengalami peningkatan sebesar 3,05 persen.

Baca :  Survei BI: Penjualan Eceran Juni 2020 Membaik

11. Terget defisit dalam APBN 2020 diperkirakan sebesar Rp 307.225, 8 atau sebesar 1,76 persen dari PDB, mengalami perbaikan dibandingkan outlook tahun 2019 sebesar Rp 310.812, 4 atau sekitar 1,93 dari PDB. Strategi fiskal ekspansif yang diterapkan oleh Pemerintah akan kontradiktif dengan kebijakan menekan defisit APBN. Diperlukan stimulus fiskal untuk mendorong perekonomian agar tumbuh pada level cukup tinggi (di atas 5%), menggerakan sektor riil, menggairahkan investasi dan meningkatkan daya saing. Ekspansif umumnya diarahkan untuk mendorong belanja infrastruktur maupun meningkatkan insentif UMKM, termasuk mendorong daya beli masyarakat kelas bawah. Sedangkan Inovasi dan penguatan kualitas SDM akan berdampak dalam jangka menengah dan jangka panjang bagi perekonomi.

Baca :  BTN Ajak HIPNU Terlibat Program Sejuta Rumah

12. Target pembiayaan dalam RAPBN 2020 sebesar 307,2 Triliun atau berkurang dibandingkan outlook 2019 sebesar Rp. 310,8 Triliun. Selaras dengan target tersebut, pembiayaan yang bersumber dari utang dalam RAPBN 2020 sebesar Rp. 351,9 Triliun berkurang dibandingkan dengan outlook 2019 sebesar 373,9 triliun. Pemerintah harus memperoleh sumber pembiayaan, dengan memperhatikan portofolio utang yang seimbang dengan mempertimbangkan risiko, biaya utang, dan maturitas. Dalam lima tahun terakhir, secara nominal stok utang pemerintah pusat menunjukkan tren yang meningkat.