PECCATUM TACITURITATIS

Tuesday 6 Feb 2024, 8 : 24 pm
Praktisi Hukum, Gabriel Mahal

Oleh: Gabriel Mahal

Ada tiga hal di dunia ini yang tidak pantas mendapatkan belas kasihan, yakni:  kemunafikan, penipuan, dan tirani.

Begitu kata Theolog Inggris, Frederick William Robertson, yang lebih dikenal sebagai Robertson of Brighton.

Tiga hal itu yang kita lihat dan kita alami saat ini. Omongan dan perilaku pemimpin kita tidak bisa lagi dipegang.

Lain omong, lain yang dilakukan. Mencle mencle.

Tegas mengatakan kita harus menghormati dan tunduk pada Konstitusi, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) dipermainkan untuk kepentingan nepotisme.

Lantang bersuara kita harus menjunjung etika, tetapi saat yang bersamaan menginjak-injak moral dan etika.

Tegas menyatakan kita harus menghormati hukum, tetapi hukum dań penegakan hukum dijadikan alat kekuasaan, senjata kepentingan politik untuk menghantam lawan atau pihak-pihak yang tidak mengikuti kehendak penguasa.

Tegas mengumumkan pejabat negara, ASN, aparat negara harus netral dalam Pilpres/Pemilu, tetapi dimana-mana kita lihat ketidaknetralan.

Akibatnya? Mahkamah Konstitusi rusak. Konstitusi terancam. Demokrasi sakit. Hukum dań penegakan hukum amburadul.

Praktik nepotisme dan kolusi kasat mata. Telanjang. Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak baik-baik saja.

Itulah sebabnya para Guru Besar & Akademisi dari puluhan kampus bersuara.

Seruan mereka itu adalah suara moral, suara nurani.

Para Guru Besar, Akademisi, Civitas Akademika di Kampus-Kampus itu sadar betul pesan moral dari omongan Dante Allighieri dalam Divina Commedia: tempat paling panas  di neraka  (the hottest place in hell) disediakan bagi mereka yang netral di saat terjadi krisis moral & etika.

Kehidupan bangsa dan negara ini sedang krisis moral dan etika yang berat.

Para Guru Besar, Akademisi, Civitas Akademika di kampus-kampus itu tidak boleh bersikap netral di tengah krisis moral dan etika itu.

Jika mereka diam saja dan netral, mereka membiarkan kehidupan bangsa dan negara ini terancam ambruk, dan  mereka akan menanggung apa yang disebut “Peccatum Tacituritatis” – Dosa Diam, dan seperti kata penyair besar Italia Dante Allighieri, mereka jadi penghuni “the hottest place in hell” – tempat paling panas membara di neraka.

 

Penulis adalah Budayawan dan Praktisi Hukum di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Penurunan Harga BBM Harus Disertai Kebijakan Eksekusional Kementrian

JAKARTA-Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean berharap agar

Peti Kemas Domestik Kuasai Tanjung Perak

JAKARTA-PT Pelindo III (Persero) menegaskan  arus peti kemas domestik tercatat