Pefindo Koreksi Proyeksi Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2020 Jadi Rp110,95 T

ilustrasi

JAKARTA-Kekhawatiran terhadap dampak negatif dari kondisi pandemi Covid-19 telah memicu PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk mengoreksi perkiraan nilai penerbitan surat utang di sepanjang 2020 menjadi maksimal Rp110,95 triliun.

Menurut Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra, penerbitan surat utang korporasi di 2020 diperkirakan cenderung menurun minimal 30 persen dari proyeksi di awal tahun ini yang mencapai Rp158,5 triliun, karena adanya kekhawatiran terhadap wabah Covid-19 yang telah menekan aktivitas bisnis di semua sektor.

“Proyeksi di awal memang lebih tinggi, karena tidak ada kekhawatiran seperti saat ini. Apalagi, ada sebesar Rp130,7 triliun surat utang jatuh tempo dan perusahaan memiliki kecenderungan melakukan refinancing,” kata Salyadi dalam acara Media Forum yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Jumat (10/7).

Baca :  Pefindo Kembali Pangkas Rating MDLN Jadi CreditWatch Berimplikasi Negatif

Dia memperkirakan, nilai surat utang jatuh tempo di 2020 masih di dominasi lembaga perbankan dan perusahaan pembiayaan yang masing-masing sebesar 20,7 persen dan 20 persen.

Sedangkan untuk sektor lainnya sebesar 17,7 persen, lembaga keuangan khusus 14,4 persen dan selebih tersebar pada perusahaan di sektor telekomunikasi, pulp and paper, properti dan konstruksi.

Salyadi mengungkapkan, per akhir Semester I-2020 jumlah mandat penerbitan obligasi diterima Pefindo yang belum mencapai Rp74,16 triliun.

Jumlah ini didominasi oleh perbankan sebesar 13,48 persen, multifinance 11,87 persen dan jalan tol sebesar 10,59 persen.

“Sebesar Rp74,16 triliun ini yang pasti tidak bisa semua terealisasi di tahun ini. Karena, tren penerbitan surat utang yang sedang menurun,” imbuhnya.

Baca :  Kemenkeu Tidak Terbitkan Pendemic Bonds Untuk Pembiayaan COVID-19

Lebih lanjut Salyadi mengatakan, realisasi penerbitan surat utang korporasi per akhir Semester I-2020 sebesar Rp30,03 triliun yang didominasi multifinance (Rp4,04 triliun, lembaga keuangan khusus (Rp4 triliun) dan perbankan (Rp3,69 triliun).

Tenor jangka pendek dan menengah (satu tahun, tiga tahun dan lima tahun) masih mendominasi penerbitan surat utang korporasi.

“Hingga akhir Semester I-2020, pertumbuhan penerbitan surat utang korporasi cenderung melambat. Terlihat dari penerbitan surat utang listed sebesar Rp29,28 triliun atau lebih rendah dibanding periode yang sama di 2019 yang mencapai Rp53,52 triliun. Outstanding surat utang korporasi di 2020 ini juga turun menjadi Rp460,23 triliun dibanding 2019 sebesar Rp474,46 triliun,” ungkap Salyadi

Baca :  Indonesia Sebagai Pencetus dan Negara Koordinator RCEP