Pefindo Upgrade Rating KIK-EBA Mandiri GIAA01 Jadi idBB dengan Prospek Negatif

ilustrasi

JAKARTA-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memutuskan untuk menaikkan peringkat KIK-EBA Mandiri GIAA01 Kelas A ke level idBB (sf) (cg) dari sebelumnya di peringkat idCCC (sf) (cg).

Rating ini didasari penilaian ulang atas pembayaran porsi amortisasi pokok senilai Rp360 miliar pada 2 September 2020 dari jadwal awal pada 27 Juli 2020.

Berdasarkan hasil penilaian analis Pefindo, Danan Dito dan Yogie Surya Perdana yang dilansir di Jakarta, Senin (21/9), proses klaim oleh PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) selaku kepada PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) telah dihentikan, karena tersedianya dana oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) untuk membayar kewajiban tersebut.

Pefindo menyebutkan, ada klausul force majeur/risiko politik di dalam penjaminan tersebut yang menyebutkan penghentian penerbangan dari Jeddah dan Madinah ke Indonesia dan sebaliknya.

Baca :  Pefindo: Bulan Depan Suku Bunga BI Turun 25 Bps, Hingga Akhir 2020 di Level 3,75%

“Selama penghentian tersebut masih berlaku, kami berpandangan bahwa penjaminan Askrindo berdampak lebih kecil terhadap peringkat KIK-EBA, dibanding pada saat pengkajian peringkat awal penerbitan KIK-EBA yang tidak memperkirakan dampak pandemi Covid-19”.

Selain itu, Pefindo juga merevisi prospek peringkat perusahaan menjadi “negatif” dari “creditwatch dengan implikasi negatif”, setelah realisasi pembayaran amortisasi pokok.

Prospek negatif mencerminkan profil kredit GIAA yang dinilai masih lemah dan rentan terhadap perburukan di tengah kenaikan kasus infeksi Covid-19 dan implementasi kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta.

Kondisi tersebut, dikhawatirkan dapat membalikkan tren kenaikan permintaan penerbangan domestik dan memberikan tekanan tambahan bagi arus kas dan posisi likuiditas GIAA dan KIK-EBA.

Baca :  TPIA Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun dengan Tingkat Kupon 9,2%

“Dalam pandangan kami, hal ini lebih dominan daripada pengumuman pembukaan penerbangan internasional sebagian oleh pemerintah Arab Saudi, karena ada ketidakjelasan dalam waktu dekat bahwa pengumuman ini berarti berlanjutnya kembali penerbangan dari Jedah dan Madinah ke Indonesia dan sebaliknya.”

Pefindo menambahkan, terdapat pula kemungkinan penundaan realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp8,5 triliun yang diestimasikan bisa mendukung operasi GIAA untuk 3-6 bulan ke depan.

Para analis Pefindo menjelaskan, peringkat KIK-EBA tersebut bisa diturunkan, jika pendapatan dan arus kas GIAA menurun lebih jauh, karena menurut pandangan Pefindo hal itu dapat meningkatkan risiko tidak terbayarnya kupon dan pokok amortisasi KIK-EBA.

Namun, prospek bisa direvisi kembali menjadi “stabil”, jika profil kredit GIAA mengalami perbaikan dan stabil karena peningkatan kegiatan penerbangan yang berkelanjutan dan redanya tekanan pada beban finansial GIAA yang dapat berasal dari realisasi dukungan pemerintah.

Baca :  Pefindo Koreksi Proyeksi Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2020 Jadi Rp110,95 T