Pemuda Katolik Komda Lampung: 4 Prinsip Harus Dipegang Agar Organisasi Bermartabat

Matius Joko Dwi Yono (Komcab Lamsel), Martinus Sutarno (Komcab Tanggamus), Hadi Sutowo (Komcab Pringsewu), Antonius Novianto (Bendahara Komcab Pringsewu), Marcus Budi S (Ketua Komda Lampung), Robertus Didik Budiawan. C (Ketua Komcab Pringsewu), Ignatius Widiyono (Komcab Tanggamus), Thomas Sumaryadi (Ketua Komcab Tanggamus), Purwanto (Komcab Lamsel), Agus (Komcab Lamsel)

BANDAR LAMPUNG-Organisasi Pemuda Katolik harus terus bertumbuh dan sekaligus berakar pada masyarakat yang pada akhirnya harus berbuah bagi masyarakat yang didasarkan pada local wisdom. Oleh karena itu, ada empat prinsip yang harus dipegang agar Pemuda Katolik menjadi ormas yang berbuah bagi masyarakat dan bermartabat karena berintegritas. Keempat hal itu adalah konsisten cara berpikir, cara berkerja, cara berelasi dan dalam perubahan perilaku menuju kesempurnaan.

Untuk berbuah bagi masyarakat, Pemuda Katolik harus memegang teguh dan bahkan menjadi garda terdepan empat konsensus dasar nasional yakni, Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD NRI 1945, Empat konsensus dasar itu merupakan hasil pemikiran para pendiri bangsa yang disarikan dari nilai-nilai luhur bangsa. Namun sebagai ormas, Pemuda Katolik tidak dapat berjalan sendiri tetapi harus bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk, pemuka agama, TNI-Polri, pelaku usaha, ormas lain dan pengambil keputusan.

Demikian kesimpulan dari dua pertemuan para kader Pemuda Katolik dari Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Lampung dengan narasumber Rm. Y. Kurniawan Jati – alumnus Lemhannas RI PPRA LVI) dan diskusi terbatas bersama AM Putut Prabantoro – alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, di Hotel Arinas, Bandar Lampung Sabtu (11/8/2018).

Menurut Kurniawan jati, seluruh ormas Katolik termasuk Pemuda Katolik, harus memperjuangkan kepentingan masyarakat, rakyat dan umum. Ada 2 (dua) perjuangan yang harus dilakukan oleh Pemuda Katolik untuk menegaskan bahwa kaum muda adalah generasi perubah (agent of change). Perjuangan pertama adalah perjuangan pembangunan martabat manusia dan kedua adalah perjuangan perwujudan keadilan sosial.

“Perjuangan pembangunan martabat manusia meliputi upaya terpenuhinya hak dasar, anti korupsi dan menjadikan bumi sebagai rumah bersama. Bumi adalah ibu kehidupan seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku ataupun ras. Maka setiap warga negara harus menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama. Perjuangan kedua adalah perjuangkan terwujudnya keadilan sosial termasuk di dalamnya ikut mewujudkan kesejahteraan umum, membela kaum tertindak, yang kecil, lemah, miskin, perempuan serta anak-anak dan mereka yang terbaikan,” ujar Kurniawan Jati.

Namun untuk mampu berjuang, lulusan Lemhannas PPRA LVI itu mengurai lebih lanjut, tidaklah mudah karena setiap anggota organisasi harus memiliki cara berpikir yang terbuka, inklusif, inovatif dan transformatif. Cara berpikir yang sempit, tertutup dan bersikap “menang sendiri” hanya akan membuat dan menjadikan orang lain kerdil dan bodoh. Namun dengan kemajuan teknologi informasi termasuk medsos, cara berpikir yang sempit, tertutup dan bersikap “menang sendiri” akan mendapat tantangan dari pihak lain yang memiliki cara berpikir yang berbeda.