Pengamat Ini Dukung Jonan Jadi Dirut Garuda

Ignasius Jonan
Ignasius Jonan

JAKARTA-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir memecat Direktur Utama PT Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Akhsara Danadiputra atau Ari Askhara. Sejumlah nama kandidat mulai muncul ke permukaan untuk mengisi pos nomor 1 di industry penerbangan milik Negara ini.

Salah satunya, Mantan Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

Peneliti Alpha Research Database, Indonesia, Ferdy Hasiman mendukung jika Jonan menjadi Dirut Garuda Indonesia.

Rekam jejak Jonan sangat bagus, mulai dari Dirut PT Kereta Api, Menteri Perhubungan hingga menjadi Menteri ESDM

“Saya mendukung nama Jonan yang sudah beredar di media untuk mengisi posisi posisi Direktur Utama Garuda. Jonan memiliki pengalaman dan kinerja apik di PT Kereta Api dan menjadikan Kereta Api menjadi moda transportasi terbaik. Jonan juga pernah menjabat menteri perhubungan dan menteri ESDM,” ujarnya.

Baca :  Perundingan RCEP Jauh Dari Kepentingan Rakyat

Di kedua kementerian itu jelasnya, Jonan termasuk salah satu menteri periode pertama Jokowi yang sukses dan memiliki banyak gebrakan baik di perhubungan maupun di ESDM.

Meskipun dirasa turun kelas, untuk menyelamatkan keuangan Garuda, dia berharap Jonan bersedia menahkodai Garuda agar menjadi perusahaan penerbangan yang bersih.

Sebab, sangat sulit bagi Garuda menjadi maskapai penerbangan terbaik dan memiliki kinerja keuangan baik, jika Direksinya memiliki bisnis sampingan untuk memperkaya diri.

“Kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton ilegal di pesawat baru milik Garuda yang melibatkan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Ashkara adalah kecelakaan besar,” tegasnya.

Ferdy menilai, Ari Ashkara ini sangat kontroversial. Sebelumnya, dia terlibat dalam rekayasa laporan keuangan atau manipulasi akuntansi yang menyebabkan pemegang saham dan investor merugi.

Baca :  Pilih Calon Dirut Pertamina Harus Sesuai UU

Ironisnya, menteri BUMN waktu itu, Rini Soemarno tak mencopot Ari dari posisi Direktur Utama. Padahal, manipulasi akuntasi adalah kejahatan korporasi paling besar.

“Jika dicopot pada saat melakukan rekayasa keuangan, tidak akan terjadi kejahatan penyelundupan seperti terjadi sekarang,” pungkasnya.