Pengguna e-Money Cuma 4%

Ilustrasi

JAKARTA-Penggunaan e-money di Indonesia tampaknya belum begitu memasyarakat. Padahal manfaatnya sangat banyak, misalnya bisa menekan uang palsu. “Tapi penggunaan e-money masih sedikit, masih di bawah 4%, ini yang harus sama-sama kita dorong,” kata Deputi Bank Indonesia (BI), Ronald Waas di Jakarta, Rabu, (2/10).

Menurut Ronald, Bank Indonesia (BI) terus mendorong penggunaan e-Money di masyakarat, karena manfaatnya sangat banyak terutama dapat menekan peredaran uang palsu.

“Saat ini peredaran uang palsu dapat tersebut ditekan, salah satunya karena perkembangan e-Money,” ungkapnya.

Rasio uang palsu saat ini mencapai 5 lembar dari 1 juta lembar. “Saat ini rasio uang palsu 5 lembar dari 1 juta lembar, sedangkan tahun lalu mencapai 8 lembar dari 1 juta lembar,” tambahnya.

Baca :  BI Perpanjang Implementasi Chip dan PIN Online Kartu ATM/Debit

Diyakini Ronald, penggunaan e-Money jauh lebih aman dan efisien. Apalagi uang tunai itu sangat mahal untuk biaya pembuatannya. “Produksi uang tunai dan penanganan uang tunai sangat mahal, dengan e-Money ini sangat efisien,” cetusnya.

“Bukan cuma itu, pelaku kejahatan perbankan bisa dengan mudah terlacak. “Selain itu jauh lebih aman, jika ada pelanggaran tindak pidana sangat gampang dilacak karena datanya terekam dimana transaksinya,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Boedi Armanto, mengakui penerapan e-money di Indonesia termasuk terlambat dibanding negara lain, seperti Hong Kong dan Singapura. “E-money dikenalkan sejak 2007, sedangkan di Hong Kong pada 1997 dan Singapura pada 2000,” jelasnya.

Baca :  ​Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 0,45 Miliar Dollar AS

“Dengan kondisi infrastruktur di Indonesia, Boedi melanjutkan, dibutuhkan waktu cukup lama agar masyarakat terbiasa menggunakan e-money. Budaya masyarakat yang terbiasa bertransaksi secara tunai akan menjadi tantangan tersendiri.

Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, BI telah mengeluarkan ketentuan transaksi dengan e-money. Penggunaan e-money ini juga akan akan memudahkan masyarakat, karena tak perlu lagi membawa uang tunai.

“Bertransaksi menggunakan e-money cukup aman, karena sudah menggunakan teknologi yang memperhatikan standardisasi seperti penggunaan chip,” ujarnya.

Transaksi e-money dari waktu ke waktu terus meningkat. Boedi memaparkan, transaksi e-money pada 2009 sebanyak 48 ribu kali senilai Rp1,4 miliar per hari. Pada 2010 naik menjadi 73 ribu transaksi dengan nilai Rp1,9 miliar. Pada 2011, transaksi kembali meningkat mencapai 112 ribu transaksi dengan nilai Rp2,7 miliar.

Baca :  Pertumbuhan Harga Properti Residensial Melambat

“Per Juli 2012, transaksi mencapai 243 ribu dengan nilai Rp4,7 miliar per hari,” pungkasnya. **can