Penggunaan Bio Energi Jangan Ganggu Program Mobil Listrik

Anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta

JAKARTA-Kalangan DPR mengingatkan keberhasilan pemerintah mendongkrak penggunaan CPO sebagai biofuel, alias energi terbarukan harus imbangi dengan pelestarian lingkungan. Saat ini penggunaan bio fuel, B20 menjadi kebanggaan nasional dan sedang dimulai penggunaan B30 perlu diapresiasi. Apalagi penggunaannya ditargetkan sampai B100.

“Tentu sangat bagus. Hanya saja yang menjadi catatan kritis kita adalah jangan sampai terjadi peningkatan perambahan hutan,” kata anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin dan sejumlah Direksi PLN, PGN dan Pertamina di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Diakui Nyoman, penggunaan energi renewable terus meningkat, sedangkan komsumsi energi fosil berkurang. Dengan makin tingginya biofuel, maka efek terjadi penurunan rumah kaca.

Baca :  BI-Kemenkeu Sepakat Pantau Informasi Devisa Melalui SiMoDis

“Penyerapan CPO yang tinggi untuk penggunaan bio fuel cukup menggembirakan, karena mampu mengurangi impor minyak, sekaligus menghemat devisa negara hingga Rp63 Triliun,” tuturnya.

Di satu sisi, kata Legislator asal Bali, memang ada keberhasilan dalam mendorong energi baru dan terbarukan (EBT). Namun disisi lain, jangan sampai ada pengorbanan yang besar terhadap hutan yang semakin menyusut.

“Tentu kita tidak ingin, perambahan hutan ini dijadikan kampanye negatif ke luar negeri oleh LSM,” terangnya lagi.

Oleh karena itu, lanjut anggota Fraksi PDIP, DPR minta jangan sampai terjadi kontradiksi dalam implementasinya di lapangan.

“Dimana, saat pemerintah sedang giat-giatnya membangun bio energi, namun segala kebijakannya selalu terpusat. Sehingga menghambat pengembangan industri bio energi tersebut,” paparnya.

Baca :  76 Kota Mengalami Inflasi

Tak hanya itu, sambung Nyoman lagi, bahkan disisi lain penggunaan bio fuel baik itu, B20, B30 hingga B50 tentu harus dipikirkan dampaknya. Karena dalam jangka panjang kebijakan ini juga akan menghambat pengembangan mobil listrik. 

“Pemerintah juga sedang mendorong pengembangan mobil listrik, harusnya ada roadmap yang jelas,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati memproyeksikan terjadi penghematan impor minyak sebesar Rp 63,4 triliun lewat implementasi biodiesel 30% (B30) tahun ini. Sepanjang 2019 lalu, penghematan impor minyak akibat implementasi B20 terhitung sebesar Rp 43,8 triliun.

“Dari volume turun drastis dari semula (2018) sebesar 15,3 juta barel menjadi l 0,8 juta barel pada 2019. Selain itu, dari semula impor di 2018 senilai US$ 1,4 miliar turun menjadi US$ 54 juta. Ini memberi kontribusi terhadap defisit neraca perdagangan,” jelas Nicke di Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Baca :  Industri Tekstil dan Alas Kaki Sumbang Devisa USD 19 Miliar

Tak hanya itu, Nicke memaparkan implementasi biodiesel juga berhasil menurunkan volume impor solar dari tahun 2018 sebesar 15,2 juta barel menjadi 6,28 juta barel pada tahun lalu.

Pertamina memproyeksikan, penyerapan FAME pada 2020 akan meningkat menjadi 8,38 juta kiloliter atau naik dari realisasi tahun lalu sebesar 5,51 juta kl. Selain itu, lokasi supply FAME pada 2020 akan tersebar di 28 lokasi.

Nicke menambahkan, implementasi B30 diharapkan mampu mendorong serapan tenaga kerja hingga 1,29 juta orang. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 891 ribu orang. ***