Pengusaha Susu Lokal Keluhkan Harga

JAKARTA- Dewan Persusuan Nasional memberi rekomendasi kepada pemerintah menyusul turunnya harga susu yang dihasilkan peternak lokal.  Salah satu bentuk rekomendasinya adalah mendesak pemerintah membuat kebijakan yang berpihak pada industri susu nasional. “Peternak dihadang pasar bebas jadi nggak ada yang melindungi. Harga susu terus menurun sejak 2007. Makanya, kita menuntut harga susu dinaikkan,” Ketua Dewan Persusuan Nasional,Teguh Budiana di Jakarta,Kamis (21/2).

Dahulu, kata Teguh, pemerintah mengeluarkan Inpres No 2/1985 terkait susu dalam negeri. Sehingga produksi susu dikalangan peternak sangat maju. “Zaman Orde Baru ada Inpres No 2/1985. Kemudian harga pun dipantau terus oleh pemerintah. Tahun 1997 kemudian dilepas ke pasar,” tambahnya.

Lebih jauh lagi Teguh mengungkapkan,saat ini harga susu yang dihasilkan oleh peternak lokal masih dianggap rendah. Para produsen industri susu masih membeli dengan harga yang tak menguntungkan peternak, sementara harga pakan terus naik.

Teguh menuturkan saat ini harga susu peternak lokal hanya dihargai Rp 4.000/liter. Padahal harga itu jauh di bawah rata-rata, sementara harga pakan ternak naik yang harus ditanggung peternak. Ia meminta kenaikan harga susu di kalangan peternak lokal naik hingga 11,3%.

“Kita menuntut harga susu dinaikan 11,3%, yaitu menjadi Rp 4300/liter untuk Industri Pengolahan Susu (IPS) dari total solid. Kita saat ini hanya Rp 4000/liter. Harga harus distandarisasi oleh masing-masing pabrik agar mempunyai harga yang sama. Menteri memberikan komitmen untuk mediasi ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama,Teguh juga mengungkapkan saat ini banyak peternak sapi perah berpikiran pragmatis. Mereka rela untuk menjual dan memotong sapinya karena tergiur harga daging sapi yang tinggi di tingkat konsumen mencapai Rp 95.000/Kg.

“Harga daging sapi naik berdampak pada sapi perah peternak yang dijual untuk dipotong,” cetus Teguh.

Karena itu, kata Teguh lagi, pihaknya mengusulkan kepada pemerintah harus ada perbaikan sistem tata kelola peternakan yang baik. Jika ini tidak dilakukan, maka estimasi penyusutan produktivitas susu sapi lokal setiap tahunnya akan terus terjadi.

Sebelumnya,Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolah Susu (AIPS) Syahlan Siregar mengatakan, selama ini enam perusahaan anggota AIPS konsisten menyerap susu produksi lokal meski harganya lebih tinggi dari susu impor. Produsen susu olahan dalam negeri membeli susu produksi lokal pada kisaran harga Rp3.800—4.100 per liter, sementara harga susu impor sudah mencapai Rp3.700 per liter. “Harga pembelian susu produk dalam negeri tersebut belum termasuk biaya pemrosesan seperti pasteurisasi yang diperkirakan mencapai Rp300—400 per liter,” kata dia.

Syahlan juga mengatakan bahwa meski harga susu impor lebih murah ketimbang susu lokal, para anggota AIPS memiliki ‘ikatan batin’ dengan para peternak sapi binaan untuk menyerap susu mereka. Untuk membina peternak, kata dia, butuh dana sekitar Rp20 miliar per tahun. **can

 

Baca :  Menkeu Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp10,3 Miliar