Penurunan Peringkat Tak Ganggu Perekonomian

Friday 3 May 2013, 7 : 11 pm
by

JAKARTA- Lembaga Pemeringkat Internasional Standard and Poor’s (S&P) melakukan afirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level ‘BB+’ long-term dan ‘B’ short-term serta merevisi outlook Republik Indonesia menjadi stabil dari positif. Namun Bank Indonesia (BI) yakin, pemangkasan peringkat utang ini tidak akan memicu lembaga rating lain untuk menanggalkan status investment grade Indonesia. “Kita sudah investment grade dari Fitch dan Moody’s. Keduanya masih tetap beri investment grade,” ujar Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah di Kompleks Perkatoran BI Jakarta, Jumat (3/5).

Menurut Halim, masing-masing lembaga rating memiliki pertimbangan berbeda untuk menaikkan atau menurunkan peringkat utang negara. Karena itu, dia yakin, pemangkasan peringkat utang Indonesia dari posisi positive outlook menjadi stable outlook tidak akan diikuti dua lembaga rating lain. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan masih menjanjikan sebagai negara tujuan investasi. “Seharusnya disikapi S&P dengan memberikan status investment grade seperti yang dilakukan Fitch dan Moody’s. Merurut hemat saya kita sudah investment grade dari S&P,” ujar dia.

Halim yakin, pemangkasan peringkat oleh S&P tidak akan mempengaruhi pasar di Tanah Air “Sekarang ini kita masih BBB- (dari S&P). Kita masih investment grade saat ini. Memang ada tiga lembaga rating besar, Fitch dan Moody’s masih tetap (investment grade),” kata Halim.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pemangkasan peringkat surat utang Indonesia, belum berdampak ke perekonomian secara jangka panjang. Untuk itu, BI selalu mengingatkan pelaku pasar agar tidak panik karena kondisi ini hanya berdampak sementara. “Ini hanya reaksi sesaat saja. Memang pasar sempat kaget atas sentimen tersebut. Tapi sekarang sudah stabil,” kata Perry.

Perry menegaskan konsumsi domestik masih menjadi penopang perekonomian Indonesia ke depan. Di sisi lain, Indonesia masih didorong oleh pertumbuhan kelas menengah yang naik signifikan. Dengan hal ini, bisa menjadi peluang bisnis di segala sektor dan akan berimbas pada peningkatan investasi asing di dalam negeri. “Kami yakin pertumbuhan ekonomi di 2013 masih sesuai target. Bahkan kami belum melihat risiko adanya penurunan perekonomian Indonesia di bawah 6 persen. Tapi semuanya akan sangat tergantung dengan infrastruktur yang ada,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Paus Serukan Cegah Eskalasi di Timur Tengah

JAKARTA- Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus menyatakan prihatin terhadap eskalasi

OJK Gelar Lomba Logo & Tagline Pasar Modal Syariah

JAKARTA- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memulai kegiatan lomba Logo & Tagline