Pernyataan Pejabat BI Picu Rupiah Terpuruk

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (19/7) diperkirakan kembali melemah karena respon negatif pelaku pasar setelah muncul pernyataan dari pejabat bank sentral bahwa pelemahan rupiah yang menembus level 10.000 per dollar AS bukanlah sesuatu yang diwaspadai. “Rupiah diperdagangkan dikisaran 10.050-10.090 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar analis valas Trust Securitis, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (18/7).

Menurut dia, sampai saat ini, belum ada sentimen baru yang masuk ke pasar uang. Sentimen yang ada dipasar uang masih sama seperti sentimen yang terjadi sebelumnya. Artinya, para pelaku pasar masih menanggapi negatif terhadap data-data makro ekonomi, baik itu pertumbuhan ekonomi, inflasi dan defisit neraca perdagangan. “Sentimen negatif masih dominan terjadi di pasar uang. Pelaku pasar saat ini bersikap wait and see menanti arah kebijakan ekonomi pemerintah,” tutur dia.

Tekanan terhadap rupiah semakin tidak terhindari setelah muncul pernyataan dari pejabat bank sentral bahwa pelemahan rupiah yang menembus level 10.000 per dollar AS bukanlah sesuatu yang diwaspadai. Kondisi ini membuat pelaku pasar tidak percaya dengan kinerja rupiah karena pernyataan ini memberi sinyal bahwa rupiah masih berpotensi terpuruk ke level pelemahan lagi. “Banyak statament yang tidak kondusif yang mengubah persepsi pelaku pasar terhadap rupiah,” jelas dia.

Selain itu kata dia, ruang bagi penguatan rupiah semakin terbatas karena kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia sekitit berkurang pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Kenaikan harga energi itu, kata dia, diiringi dengan momentum puasa dan lebaran. Semua itu bisa memicu lambungan inflasi nantinya yang akan dirilis pada awal Agustus.

Situasinya kian memberatkan rupiah setelah muncul statement bank sentral bahwa inflasi masih tinggi sehingga turut menyumbang persepsi negatif pelaku pasar uang.  “Jadi, faktor domestik memberi tekanan terhadap rupiah,” ujar dia.

Sehingga tatkala terjadi penurunan nilai tukar dollar AS sebagai dampak dari kebijakan  pengurangan stimulus keuangan oleh bank sentral AS (The Fed) tidak memberi pengaruh positif bagi rupiah. “Selama ekonomi AS tetap berada di jalur ekspansi moderat, rencana penurunan stimulus keuangan akan tetap dilakukan The Fed dan mengarah pada penghentian stimulus di tahun depan,” pungkas dia.

 

Baca :  OJK Siapkan Road Map Penyelesaian Sengketa