Pertamina Mengapa Dijual?, Coba Belajar ke Papua

Freeport bermasalah dengan utang yang sangat besar, akibat kegagalan investasi di minyak. Tapi Freeport tidak akan mau IPO di BEI, negara dengan perubahan hukum yang sangat dinamis dan tidak pasti.

Lalu apa yang dilakukan Freeport?.

Disini kita harus belajar. Freeport Indonesia “menendang Rio Tinto” dari tambang Grasberg Papua.
Rio Tinto adalah pemegang Participating Interest (PI) di Grasberg. PI Rio Tinto itu adalah bagian produksi 40 % di atas produksi normal Grasberg.

Karena desakan politik dari dalam Indonesia agar Freeport melalukan divestasi, taat pada kontrak karya, dan berbagai kewajiban lainnya yang selama berpuluh puluh tahun tidak terlaksana.

Maka dipindah tangankanlah PI Rio Tinto kepada Holding BUMN Tambang Indonesia yang dipimpin Inalum seharga Rp 53 Triliun.

Baca :  Siaga Covid-19, Pertamina Pastikan Pasokan BBM & LPG Aman

Dengan cara begini Freeport Indonesia bisa terbebas dari skema IPO, dan terbebas dari kewajiban jual saham murni.

Pelajaran dari Papua ini cukup berharga bagi para pengambil kebijakan Indonesia bahwa banyak jalan menuju roma, banyak cara mendapatkan uang tanpa harus ada pihak lain, swasta maupun asing yang bisa cawe cawe di BUMM.

Karena belum tentu swasta dan asing itu punya niat yang sama dengan bumn yakni melayani rakyat, bangsa dan negara.

Jadi kalau IPO anak perusahaan Pertamina itu untuk alasan cari uang, maka itu jelas keliru. IPO akan mengakibatkan anak perusahaan pertamina akan jatuh dalam genggaman swasta.

Apalagi sekarang Pertamina sudah banyak utang ke swasta. Maka swasta akan kontrol Pertamina melalui dua hal yakni saham dan utang.

Baca :  NOC Negara-negara ASEAN Komit Perkuat Konektivitas Energi

Tapi kalau kalau memang niatnya mau menjual Pertamina, maka itu hal lain. Menteri BUMN harus jujur ke rakyat bahwa memang dia mau menjual Pertamina.

Jujur itu hebat kata KPK.

Penulis adalah Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta