Pery: Jangan Sampai Presiden Jokowi Tergoda ‘Sengkuni’

Kepala Divisi Litbang 98 Institue, Pery Rinandar,

JAKARTA-Acara Rembuk Nasional 2017 yang digelar Senin (23/10) lalu dinilai tak efektif. Tak hanya itu, kegiatan yang dihadiri Presiden Joko Widodo tersebut disebut sarat kepentingan dan hanya membuang-buang waktu.

“Karena kalau kita bicara pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla banyak lembaga survei dan lembaga masyarakat yang memuji dan mengoreksi kinerja tersebut dan hal itu tentu menjadi acuan bagi duet Jokowi-JK untuk bekerja lebih baik lagi,” kata Kepala Divisi Litbang 98 Institue, Pery Rinandar, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/11).

Menurut Pery, acara sekaliber Rembuk Nasional 2017 tersebut hanya diketuai dan dibantu sekretaris yang bukan tokoh nasional. Padahal, di belakang Presiden Jokowi ada nama Teten Masduki dan Pramono Anung yang harusnya bisa membuat kegiatan tersebut lebih greget.

Baca :  Forum Masyarakat Tionghoa Kalbar Peduli Protes Sikap Lieus Sungkarisma

“Seyogyanya acara ini digagas dan diisi oleh tokoh nasional sehingga menjadi lebih berbobot. Kenapa acara Rembuk Nasional tidak efektif, sederhana saja karena ketua pelaksana dan sekretaris pelaksana cuma staf ahli menteri, pak Firdaus Ali dan komisaris di salah satu BUMN pak Anang Sri Kusuwardono,” kata Pery.

Pery melihat, dari cara bekerja pelaksanaan kegiatan tersebut hanya menghasilkan hal-hal baik di pemerintahan Jokowi-JK. Kadang kegiatan seperti itu, kata dia, hanya berharap bargaining posisi atau berharap masuk ke dalam kabinet.

“Kita tahu lah kan Ketua BPOM sekarang ibu Penny Kusumastuti Lukito kan isterinya Ketua Pelaksana pak Firdaus Ali ,” ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjut Pery, dana yang besar untuk pelaksanaan acara tersebut dapat menjadi serangan balik bagi Jokowi-JK.

Baca :  Menolak Eksekusi, Ratusan Pedagang Kemiri Muka Kepung PN Depok

“Karena pasti panitia mengatakan bukan anggaran dari negara. Berarti ada sumbangan dari donatur dan sponsor kan. Nah, saya duga jangan-jangan, mungkin diiming-imingi sesuatu atau dapat bersalaman dengan Presiden, ini kan menjadi ironis,” tutur Pery.

Pery mengaku sikap kritisnya ini lantaran mengapresiasi kinerja Jokowi-JK selama 3 tahun ini menjabat. “Sehingga jangan sampai ternoda oleh oknum-oknum yang mencari muka di depan Presiden seperti Sengkuni dalam cerita Mahabarata. Jadi ini rembuk yang gagal,” pungkasnya.