Petani Mengeluh, PTPP Bantah Proyek PLTU Cemari Rumput Laut di Pantai Oesina

Ilustrasi

JAKARTA-PT PP (Persero) Tbk membantah keluhan petani rumput laut di Pantai Oesina, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyebutkan bahwa budidaya rumput laut tercemari oleh debu pembangunan proyek PLTU Timor 1 yang pengerjaannya diklaim sudah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Berdasarkan keterbukaan informasi PTPP yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (29/6), PTPP telah melakukan tanggapan dan menindaklanjuti keluhan para petani.

Manajemen perseroan menyebutkan, lokasi proyek PLTU Timor 1 terhadap rumah warga sekitar yang terdekat berjarak relatif jauh.

Dikutip dari situs berita penatimor.com, pencemaran debu terhadap budidaya rumput laut di Pantai Oesina berasal dari pembangunan jembatan titian pada proyek PLTU Timor 1.

Baca :  Saat Program 35.000 MW Selesai, Seluruh Pembangkit Baru Gunakan EBT

Petani rumput laut, Mateos Laka mengatakan bahwa pekerjaan jembatan yang tidak jauh dari lokasi budidaya telah merusak hasil tani maupun bibit rumput laut.

“Sekitar bulan Mei kemarin beberapa perwakilan dari PLTU sempat datang untuk mengambil sampel rumput laut yang terkena penyakit itu, namun sampai saat ini kami tidak tahu hasilnya dan belum ada tidaklanjuti dari pihak PLTU,” ungkap Mateos.

Sementara itu, menurut SVP EPC Division PTPP, Nurlistyo Hadi, lokasi proyek PLTU Timor 1 jauh dari area budidaya rumput laut di Pantai Oesina. 

“Lokasi tersebut sudah cukup jauh untuk memberikan dampak minimal terhadap area rumput laut. Sehingga, tidak akan terdapat dampak yang cukup besar atau maksimal terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan,” paparnya.

Baca :  PLN Buka Tender 4 Proyek Pembangkit Program 35.000 MW

Terkait dengan aspirasi pengaduan petani rumput laut pada 16 Mei 2020, tim proyek PTPP menemui para petani dan melakukan pengecekan bersama.

Proses pemeriksaan juga melibatkan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) setempat.

PTPP menyebutkan, perseroan melakukan pemeriksaan bersama warga dan telah tercapai kesepakatan dengan warga. 

Bersama dengan PT PLN (Persero) selaku pemilik proyek, PTPP mengklaim bahwa proyek Timor 1 sudah menggunakan metode sesuai SNI.

Metode yang digunakan adalahnmetode blasting yang telah melalui perizinan dari pihak berwajib terkait pengadaan bahan peledak, pengiriman, penyimpanan dan proses eksekusi di lapangan.

“Proses sosialisasi terkait blasting pertama sudah dilakukan sejak 29 Februari 2020 kepada warga sekitar dan dilakukan dengan cara mendatangi dari rumah ke rumah. Ini dilakukan untuk memberitahukan rencana aktivitas pekerjaan di lapangan,” ujar Nurlistyo

Baca :  Presiden Resmikan Pembangunan PLTU dengan Investasi USD 4 Miliar