Pidato Politik Megawati Soekarnoputri pada Pembukaan HUT 47 Tahun PDIP

Ketua Umum PDIP Perjuangan, Megawati Soekarnoputri tengah berbincang dengan Presiden Joko Widodo

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera, salom

Namo Buddhaya,

Om Swastiastu,

Yang terhormat,

1. Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo

2. Wakil Presiden, KH. Ma’aruf Amin

3. Pimpinan Lembaga Negara

4. Para Menteri Kabinet Indonesia Maju

5. Pimpinan Partai Politik

6. Para tamu undangan

7. Rekan-rekan media

Yang saya cintai dan banggakan,

Kader-kader PDI Perjuangan, peserta Rakernas Pertama PDI Perjuangan, Perwakilan DPD, DPC, Badan-badan Partai, Legislatif, Sayap Partai dan Perwakilan DPLN

Rakyat Indonesia, dimana pun berada

Terimalah salam perjuangan kita: merdeka! Merdeka!, Merdeka!

Hadirin yang saya hormati,

Sungguh perjalanan politik yang luar biasa yang telah saya tempuh. Saya memilih berpolitik dengan membangun partai politik, bernama PDI Perjuangan. Hari ini, 10 Januari 2020, Partai yang saya bangun mencapai usia 47 tahun. Kegembiraan, kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa unggul, rasa pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa letih, rasa babak bundas, semua sudah kita alami.

Baca :  Fahri : Pancasila Bisa Jadi Ideologi Alternatif Dunia

Setelah PDI Perjuangan berturut-turut menang dalam dua kali Pemilu, 2014 dan 2019, pertanyaan yang selalu menghentak dalam dada saya, inikah makna sesungguhnya kemenangan politik. Jika sudah menang Pemilu, lalu mau apa? Apakah menang Pemilu, berupa kemenangan elektoral, jadi tujuan akhir bagi Partai? Kegelisahan-kegelisahan tersebut merundung saya.

Beberapa hari ini saya merenung. Saya mencoba menggali kembali lembar-lembar perjalanan kehidupan politik yang telah saya lewati. Perenungan spiritual itu mengantarkan saya pada kotak pandora ingatan, kotak yang berisi cita-cita dan gagasan politik seorang lelaki, yang saya panggil Bapak.

Bapak yang telah menempa saya sejak kecil untuk hidup di jalan pengabdian kepada tanah air dan bangsa. Bapak mengatakan, “Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, tetapkanlah kecintaanku kepada tanah air dan bangsa, selalu menyala-nyala di dalam saya punya dada, sampai terbawa masuk ke dalam kubur saat Allah memanggilku pulang.” (Di Bawah Bendera Revolusi, 1941).

Baca :  Kalangan Intelektual Cenderung Jadi Agen Asing

Itulah doa Bapak, ayah saya, yang biasa dipanggil oleh rakyat Indonesia dengan sebutan Bung Karno. Doa Bapak selalu menuntun saya saat saya merasa gamang atau hampir kehilangan asa dalam pertarungan politik. Doa Bung Karno selalu mampu menuntun saya kembali ke niat awal, mengapa saya sebagai seorang perempuan dan seorang Ibu, memutuskan membangun partai politik.

Niat itu berupa keyakinan terhadap ideologi Pancasila. Keyakinan yang membentuk pemahaman bahwa ideologi bukan sesuatu yang utopis, bukan suatu gagasan yang tidak membumi. Keyakinan yang menjadi penyulut semangat bahwa Pancasila harus diperjuangkan agar berwujud dalam merdeka penuh, makmur penuh, adil penuh, sejahtera penuh bagi seluruh rakyat Indonesia, bangsa Indonesia yang menyumbang damai penuh bagi dunia.

Baca :  PDIP Gelar Deklarasi Bambang-Said di Blitar

Kader-kaderku di seluruh tanah air,

Tema Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-47 Tahun dan Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan kali ini adalah Solid Bergerak: Wujudkan Indonesia Negara Industri Berbasis Riset dan Inovasi Nasional dan Sub Tema Strategi Jalur Rempah dalam Lima Prioritas Industri Nasional untuk Mewujudkan Indonesia Berdikari. Tema dan sub tema tersebut saya putuskan sebagai simbol babak baru bagi perjuangan dan strategi Partai. Di usia 47 tahun, sudah waktunya kristalisasi ideologi dalam suatu gerakan konkret. PDI Perjuangan adalah partai politik. Otokritik harus berani kita lakukan. PDI Perjuangan adalah partai yang menganut ideologi Pancasila.