PPIK: Indonesia Harus Semakin Aktif Jadi Juru Damai Korea

JAKARTA-Delegasi Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara (PPIK) akan menghadiri peringatan 70 tahun Hari Pembebasan Korea Utara (Korea Liberation Day) yang jatuh pada 15 Agustus 2015. Selain itu, delegasi yang terdiri dari Sekjen PPIK Teguh Santosa dan anggota PPIK AM Putut Prabantoro akan menghadiri Konferensi Panitia Persiapan Reunifikasi Damai Korea di Pyongyang. “Kemerdekaan bangsa Korea dan bangsa Indonesia lahir dari semangat melawan penjajahan,” ujar Teguh Santosa sebelum keberangkatan ke Pyongyang, Selasa (11/8).
Semenanjung Korea dikuasai Jepang sejak 1910, lima tahun setelah Jepang menundukkan dominasi Kekaisaran Rusia di kawasan itu. Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 dua kota penting Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, luluh lantak oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat, memaksa Kaisar Hirohito mengumumkan kekalahan Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945. Adapun kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta dua hari kemudian. “Korea Utara dan Indonesia sama-sama berusia 70 tahun dan memiliki hubungan erat yang dijalin oleh Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung di masa lalu,” kata Teguh Santosa lagi yang juga dosen Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Kehadiran PPIK dalam peringatan Hari Pembebasan Korea kali ini pun, jelasnya lebih lanjut, merupakan wujud nyata hubungan baik dan saling menghormati kedua negara.
Bagi Indonesia yang bersahabat dengan negara manapun, selama sama-sama memegang teguh prinsip kemerdekaan dan anti penindasan, hubungan dengan Korea Utara penting. Ini, sambungnya, merupakan wujud nyata nilai-nilai perdamaian yang telah ditanam Presiden Soekarno dan para pendiri bangsa di masa lalu.
Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu juga mengatakan, Indonesia semestinya dapat memainkan peran penting sebagai jurudamai bagi kedua Korea yang masih bertikai. “Dalam usia 70 tahun, Indonesia harus semakin aktif untuk menjadi jurudamai bagi kedua Korea, terlebih keduanya adalah sahabat Indonesia. Sikap ini pun sesuai dengan semangat politik luar negeri kita untuk ikut dalam proses menciptakan perdamaian dunia. Memang sudah seharusnya Indonesia semakin berperan aktif dalam membangun perdamaian di kawasan regional ataupun internasional,” katanya.
Sementara itu, Putut Prabantoro mengatakan refleksi usia 70 tahun atas perjalanan suatu bangsa itu akan menjadi landasan terbang sebuah bangsa ke masa 70 tahun kedua. Refleksi itu harus bertumpu pada nilai-nilai luhur yang telah ditanam oleh para pendiri negara, termasuk nilai-nilai persahabatan yang telah ditanamkan oleh para pendiri negara.
Dengan demikian, sambung Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) – dari wartawan, oleh wartawan dan untuk Indonesia – ini, siapapun yang memimpin suatu bangsa harus menyadari arti penting usia 70 tahun sebagai tahun refleksi. Dan, 70 tahun ini juga menjadi tahun refleksi pemerintahan Joko Widodo terhadap hubungan Indonesia dan Korea Utara. “Berharap bahwa peran Indonesia akan meningkat dan lebih terlihat dalam memainkan peranan dalam percaturan politik luar negeri. Dan diharapkan juga hubungan Indonesia dan Korea Utara pada masa 70 tahun kedua kemerdekaan menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Baca :  Gerakan Ekayastra Unmada: Premi BPJS Tak Perlu Dinaikkan