Produksi MDKA Bakal Tertunda Akibat Insiden Proyek Tujuh Bukit

Ilustrasi

JAKARTA-PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melaporkan, insiden yang terjadi di Proyek Tembaga Tujuh Bukit pada akhir pekan lalu berpotensi memicu tertundanya produksi emas dan arus kas dari proyeksi sebelumnya.

Berdasarkan keterbukaan informasi MDKA yang dilansir Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (15/9), pada 12 September 2020 telah terjadi insiden di salah satu proyek tambang MDKA, yakni Proyek Tembaga Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Yang terpenting bahwa tidak ada korban jiwa atau lupa pada pekerja yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung dan juga tidak ada kerusakan lingkungan yang ditimbulkan,” demikian disebutkan Sekretaris Perusahaan Merdeka Copper Gold, Adi Adriansyah Sjoekri.

Dia menjelaskan, pada Sabtu pagi di pekan lalu, ada retak ditemukan pada permukaan heap leach pad, kemudian karyawan dan peralatan tambang dievakuasi sebagai tindakan pencegahan.

Pada Sabtu siang, sebagian dari ore yang ditumpuk di bagian depan heap leach pad mengalami penurunan permukaan.

Baca :  Selepas Krisis 2008, Total Dana Asing di Pasar Modal Rp 103,50 T

Pergerakan dari material tersebut mengakibatkan kerusakan pada pipa dan pompa.

Sehingga, pekerjaan irigasi pada area heap leach pad dihentikan sementara dan perseroan sedang menyusun rencana-rencana perbaikan untuk meminimalisir dampak yang lebih buruk.

“Tidak ada kehilangan emas, namun selama masa perbaikan masih berjalan, peristiwa ini dapat berpotensi pada tertundanya produksi dan arus kas dari tambang, terkait yang telah diproyeksikan sebelumnya,” ujar Adi dalam keterangan resmi MDKA.

Dia menyebutkan, MDKA memiliki polis asuransi komprehensif yang mencakup material damage dan business interruption.

“Peristiwa ini tidak berdampak pada rencana pengeboran dan pre-studi kelayakan di Proyek Tembaga Tujuh Bukit,” jelas Adi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kamis (10/9), MDKA memperkirakan bahwa pra-studi kelayakan Proyek Tembaga Tujuh Bukit akan rampung pada tahun depan, sehingga perseroan berharap bisa merealisasikan rencana produksi tembaga hingga 90 ribu ton dan emas seberat 300 ribu ons.

Baca :  Semester I-2020, Laba Bersih INDR Anjlok Jadi USD1,08 Juta

Pada rencana awal MDKA, Proyek Tembaga Tujuh Bukit akan memproduksi sekitar 70 ribu-90 ribu ton tembaga dan sekitar 200 ribu-300 ribu ons emas selama lebih dari 20 tahun.

Manajemen MDKA menyebutkan, proyek tersebut bisa diperpanjang selama beberapa dekade. Perseroan mengaku, terowongan bawah tanah sepanjang 1,9 kilometer telah berhasil diselesaikan pada Juni 2020 yang nantinya akan digunakan untuk melakukan pengeboran bijih. “Pra-studi kelayakan akan selesai pada 2021”.

MDKA mengungkapkan, laporan TB Copper Resources 2019 menyebutkan bahwa Proyek Tembaga Tujuh Bukit mengandung 8,8 juta ton tembaga dan 28 juta ons emas.

Perlu diketahui, pada 2019 tambang emas di Proyek Tembaga Tujuh Bukit mampu memproduksi emas sebesar 223 ribu ons dengan nilai pendapatan mencapai USD312 juta.

Berdasarkan hasil produksi emas tersebut, maka pertumbuhan produksi di 2019 menjadi sebesar 33 persen (year-on-year).

Baca :  MNCN Lepas Saham ke Scotts Capital Senilai Rp513 Miliar

Sehingga, kinerjanya tercatat berhasil mempertahankan All-in Sustaining Costs (AISC) di level USD600 per oz.

“Mengingat adanya ketidakpastian geopolitik, harga emas telah meningkat secara signifikan dalam jangka panjang dan banyak analis memperkirakan tren ini akan berlanjut, karena banyak faktor, termasuk pelonggaran kuantitatif atau pencetakan uang yang dilakukan pemerintah-pemerintah secara global,” demikian dipaparkan dalam Materi Public Expose MDKA.

Dalam materi tersebut juga menyebutkan, pada April 2020, Bank of America Merrill Lynch telah menaikan target harga emas untuk 18 bulan ke depan menjadi senilai USD3.000 per oz.

Harga tembaga juga telah berkinerja baik di 2020 (naik 9,1 persen secara year-to-date).

Sebagian besar analis melihat kecenderungan peningkatan jangka panjang pada harga tembaga, karena kegunaan tembaga sangat dibutuhkan oleh sektor industri, seperti kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat.