PT KAI “Tak Pedulikan” Kesulitan Petani

Monday 3 Feb 2014, 7 : 52 pm

JAKARTA-Larangan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) terhadap  petani Banten untuk mengangkut hasil pertanian ke gerbong kereta mendapat
kritik  DPR. Tindakan BUMN transportasi itu dinilai menunjukkan ketidakpedulian kepada masyarakat. “PT KAI tidak peka terhadap para petani,” kata Wakil Ketua Komisi 6 DPR, Erik Satrya Wardhana di Jakarta, Senin,(3/012/2014).

Saat ini, kata Erik, bukan hanya petani yang kesulitan, namun juga warga kota sulit mendapatkan bahan pangan. Kalaupun ada harganya mahal. “Di saat kondisi ekonomi penuh tekanan, BUMN ini malah membuat aturan yang membatasi petani mendapat penghasilan,” ujarnya. Dia juga mengingatkan, pada dasarnya PT KAI merupakan operator moda transportasi bagi masyarakat luas. Artinya, selain mengejar keuntungan operasional, juga jangan melupakan kewajiban kepada publik.

Sebelumnya, para petani di Kabupaten Lebak, Banten, diberitakan mengeluhkan kebijakan PT KAI yang melarang petani mengangkut hasil bumi mereka ke atas gerbong. Mereka terutama memasarkan hasil bumi ke Jakarta dan sekitarnya.

Tiga Opsi Solusi
Menyoal volume hasil bumi yang dinilai dapat memenuhi gerbong, Erik mendesak agar PT KAI tetap memberi kelonggaran. “Jangan terpaku pada
aturan yang kaku. Coba buat aturan tambahan tetapi jangan sampai melarang sama sekali,” ulas anggota Fraksi Hanura ini. Dia mengusulkan tiga pilihan. Pertama, memberlakukan biaya tiket tambahan yang terjangkau, Kedua menentukan batasan volume dan berat angkutan dan ketiga menyediakan gerbong tambahan. khusus untuk hasil pertanian dengan tarif yang khusus pula. “Saya yakin, jika memang PT KAI masih memiliki semangat pelayanan, mereka akan terbuka dan peduli pada masyarakat petani. Apalagi, beberapa alternatif solusi tadi tidak merugikan PT KAI karena win-win solution,” lanjut dia.

Lebih jauh Erik menyarankan, aturan yang bersinggungan dengan hajat hidup orang banyak, sebaiknya dirumuskan dengan terlebih dulu membuka
komunikasi dengan kelompok masyarakat bersangkutan. “Dalam banyak hal, dialog membuka sikap saling pengertian dan mengakomodasi kepentingan masyarakat luas,” papar Erik.

Lebak sendiri merupakan sentra produsen hasil pertanian seperti sayuran, pisang dan singkong. Bahkan singkong menjadi produk andalan
Lebak untuk kemudian dipasarkan ke Jabodetabek menggunakan kereta dan lantas diolah oleh industri makanan rumahan. **cea

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Demi Efisiensi, Industri Tekstil Didorong Gunakan Lampu LED

JAKARTA-Konsumsi listrik untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada

BNI Rombak Direksi, Ini Komposisi Direksi Baru

JAKARTA– PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menggelar Rapat Umum