PUPR: Blok Beton 3B Mampu Tahan Gelombang Air Laut

Ilustrasi

JAKARTA-Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia mencapai 99.093 kilometer. Namun, garis pantai ini berpotensi rusak oleh abrasi.

Salah satu cara untuk mengatasi abrasi adalah dengan menanam mangrove dan pemasangan infrastruktur pelindung pantai. Berdasarkan permasalahan tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) menciptakan teknologi Blok Beton Berkait, Berongga dan Bertangga (3B).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menegaskan pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan konstruksi dengan cara biasa. Namun butuh penerapan teknologi agar percepatan pembangunan bisa dicapai.

“Kini riset dan teknologi menjadi salah satu dari 5 pilar terobosan Kementerian PUPR dalam percepatan pembangunan infrastruktur di tanah air,” kata Menteri Basuki beberapa saat lalu.

Baca :  Berkapasitas 1000 Tempat Tidur, PUPR Bangun Fasilitas Karantina Atasi Covid-19

Blok Beton 3B dikembangkan oleh Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair) sebagai solusi mencegah longsor dan pergeseran garis pantai akibat erosi gelombang air laut.

Blok Beton 3B merupakan blok beton dengan sistem modular interlocking pabrikasi sehingga mempermudah dan mempersingkat waktu pengerjaan di lapangan karena hanya berupa instalasi. Teknologi ini dapat diterapkan di pantai berpasir dengan maksimal ketinggian gelombang moderat 1.5 meter.

Blok Beton 3B berbahan beton K-222 dengan koefisien stabilitas lapis lindung sebesar 34,63 dan mampu menahan gelombang setinggi 2 meter.

Keunggulan lainnya dari Blok Beton 3B yakni efektif dalam pengamanan pantai, rayapan gelombang rendah, sistem interlocking yang kuat dan bahan-bahan konstruksi mudah didapat.

Baca :  Dukungan Infrastruktur 10 "Bali Baru" Persempit Ketimpangan Daerah

Penerapan teknologi ini diawali dengan pekerjaan galian tanah untuk menentukan elevasi dan kedalaman galian yang akan dicapai.

Selanjutnya adalah pemasangan mini pile pabrikasi dengan tinggi maksimal 3 meter dan dilanjutkan dengan pemasangan batu kaki. Selanjutnya pemasangan pile cap dan Blok Beton 3B.

Saat ini Teknologi Blok Beton 3B telah diterapkan di Pantai Happy Buleleng, Bali dan Pantai Daruba, Morotai Selatan.

Erosi di Pantai Happy mengancam rumah penduduk dan Pura Segara sehingga penerapan pengaman pantai Blok Beton 3B dinilai sangat perlu. Di samping mengamankan pantai, teknologi ini juga berfungsi sebagai jalan akses ke laut yang mendukung kegiatan religius penduduk setempat seperti Upacara Melasti. (*)

Baca :  PUPR Tambah Peralatan Guna Tembus Desa Terisolir Wilayah Sukajaya