Rasa Aman yang Hilang

ilustrasi

Oleh: Bambang Soesatyo

Anggota Komisi III DPR RI/Presidium Nasional KAHMI 2012-2017

EKSES dari rangkaian serangan mematikan terhadap prajurit Polri di lapangan akhir-akhir ini akan sangat luar biasa. Jika negara terus bersikap minimalis seperti sekarang, taruhannya adalah rasa aman. Ketidakyakinan rakyat atas kemampuan negara membangun rasa aman akan mendorong setiap orang mempersenjatai diri guna membangun benteng pengamanan masing-masing.

Situasi sekarang benar-benar sangat membingungkan. Sebab, belum ada institusi negara yang bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya sedang terjadi, terkait dengan rangkaian penembakan dan pembunuhan terhadap sejumlah prajurit Polri, akhir-akhir ini. Benar bahwa rangkaian peristiwanya hanya terjadi di kawasan Jabodetabek. Tetapi, penembakan yang menewaskan beberapa prajurit Polri menggetarkan khalayak di seluruh pelosok negeri.

Baca :  Jangan Lagi Salah Memilih Presiden

Kalau kebingungan sekarang ini dibiarkan berlarut-larut, eksesnya dalam jangka dekat akan sangat luar biasa. Sebab, yang akan mengemuka kemudian adalah perasaan tidak aman. Melihat polisi menjadi sasaran penembakan dan pembunuhan di  keramaian kota, sangat beralasan jika komunitas atau elemen warga lainnya ikut khawatir akan menjadi target penembakan juga. Artinya, kalau sekarang prajurit Polri yang dibidik, bukan tidak mungkin di kemudian hari target para pembunuh akan bergeser ke komunitas atau elemen warga lainnya.

Sekarang, siapa saja berhak untuk membuat kesimpulan bahwa ada orang atau sekelompok pembunuh sedang berkeliarkan di Jabodetabek yang terus mengintai target. Di jalan atau di ruang publik lainnya, setiap orang harus waspada atau curiga pada orang lain di kiri kanannya. Hari-hari ini, pihak yang paling menderita adalah prajurit Polri yang bertugas di lapangan beserta keluarga mereka di rumah.

Baca :  ADK Salah Satu Sosok Sekjen Mendampingi AH

Waspada berlebihan, saling curiga serta gelisah prajurit Polri dan keluarga mereka adalah cerminan rasa tidak aman. Mudah-mudahan, kecenderungan ini tidak berlarut-larut. Artinya, untuk memulihkan rasa aman masyarakat, negara harus memberi respons terhadap para pembunuh yang berkeliaran di keramaian kota, tidak peduli latar belakang orang atau kelompok pembunuh itu. Sebaliknya, jika negara lamban atau terkesan minimalis, akan muncul pandangan dari masyarakat bahwa negara tidak mampu memberi rasa aman.

Kalau pandangan atau anggapan seperti itu meluas, sikap dan reaksi masyarakat bisa menjadi sangat ekstrim. Setiap orang akan terdorong untuk membentengi diri dari ancaman pembunuhan di ruang publik. Model pertahanan diri sudah barang tentu akan beragam, termasuk mempersenjatai diri masing-masing.  Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Keresahan dan gelisah langsung merebak di ruang publik menyusul tragedi penembakan yang menewaskan Aipda (anumerta) Sukardi di depan gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Belum kering airmata duka keluarga Aipda Sukardi, Briptu Ruslan yang bertugas di Satuan Sabhara Mabes Polri kembali menjadi korban penembakan pada Jumat (13/9) malam di tempat pencucian motor di Cimanggis, Depok.

Baca :  Jokowi: Wujudkan 5 Besar Ekonomi Dunia, Harus Kerja Keras dan Inovatif