Rekor Presiden Jokowi: BBM Murah, Siapa Untung?

ilustrasi

Oleh: Burhanuddin Saputu

Presiden Jokowi mencetak rekor baru sebagai presiden pertama kali dalam sejarah, tujuh kali mengutak-atik harga BBM hanya dalam waktu satu setengah tahun menjabat sebagai presiden. Di tangan Presiden Jokowi belakangan ini harga BBM turun lagi dan efektif sejak tanggal 1 April 2016 lalu.

Penurunan harga Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali dari harga semula Rp. 7.050/liter turun ke harga Rp. 6.550/liter, dan Solar dari harga Rp. 5.750 turun ke harga Rp. 5.250/liter. Premium maupun Solar mengalami penurunan Rp. 500/liternya.

Wilayah Jawa, Madura, dan Bali dalam kaca mata ekonomi merupakan wilayah krusial, karena di wilayah ini yang menopang ekonomi pembangunan ataupun pertumbuhan ekonomi Indonesia nampak. Selain itu perputaran ekonomi begitu besar di wilayah ini, sehingga penurunan harga BBM seharga Rp 500/liternya diasumsi bisa mempengaruhi perputaran roda ekonomi Indonesia ke arah membaik.

Baca :  Pemerintah Siapkan 25 Ribu Paket Konkit BBM ke BBG Untuk Nelayan dan Petani

Sementara harga BBM untuk wilayah luar Jawa, Madura, dan Bali adalah jauh lebih besar penurunannya. Semula harga Premiun Rp. 6.950/liter turun ke harga Rp. 6.450/liter, dan Solar dari harga Rp. 5.650/liter turun ke harga Rp. 5.150/liter.

Penurunan harga di wilayah ini selisihnya Rp 100/liter dibanding penurunan harga di wilayah Jawa, Madura, dan Bali, adalah langkah strategis terhadap pemerataan ekonomi melalui harga BBM. Demikian asumsi penurunan harga BBM akan bisa mempengaruhi sektor riil ditengah masyarakat, apalagi masyarakat di luar Jawa, Madura, dan Bali.

Lantas mengapa ditangan Presiden Jokowi harga BBM telah tujuh kali diutak-atik? Karena di era pemerintahan Jokowi lah harga BBM diserahkan ke mekanisme pasar. Dengan begitu, dua hal yang mempengaruhi keputusan pemerintah terkait harga BBM di Indonesia, yaitu: patokan harga minyak dunia; dan pergerakan kurs mata uang rupiah terhadap dollar Amerika.

Baca :  Hatta Lobbi DPR Soal Kenaikkan BBM

Lika-liku Harga BBM

Menjelang SBY meninggalkan kursi kepresidenan, sesaat lagi ketika itu harga minyak dunia akan naik. Inilah kondisi transisi pemerintahan dari SBY ke Jokowi, semacam situasi yang cukup mengkhawatirkan ekonomi Indonesia yang diprediksi oleh banyak kalangan hal itu bakal sangat terpengaruh ke arah ekstrimisme pemerintahan baru, sebagai akibat dari kenaikan harga minyak dunia. Karena itu dibuatlah forum loby di Bali tempat bertemunya SBY dengan Jokowi, guna membicarakan agar SBY menaikan harga BBM sebelum berhenti menjadi presiden, namun SBY menolak.

Maka, Presiden Jokowi diawal pemerintahannya tak ada pilihan lain meskipun pahit bagi rakyat yang memilihnya, adalah menaikkan harga BBM. Dampak kondisi pahit itulah sangat dinanti kelompok rivalitas dengan asumsi: Rakyat yang memilih Jokowi-JK saat Pilpres 2014 kembali berhadapan dengan sang pemimpin yang sudah mereka pilih. Namun komunikasi politik Presiden Jokowi kepada rakyat cukup efektif sehingga pasca kenaikan harga BBM tak ada gejolak ekstrim yang dinanti oleh kelompok rivalitas itu.

Baca :  #DirumahAja, Pertamina Luncurkan Layanan Antar Rumah