Rupiah Tertekan Akibat Ketidakpastian Kenaikan BBM

JAKARTA-Gara-gara rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak jelas kepastiannya, maka hal itu memberikan tekanan tehadap nilai tukar rupiah. “Ini (tertekannya rupiah) dampak dari ketidakpastian sehingga direspons oleh pasar,” kata Ketua Perbanas Sigit Pramono di Jakarta, Senin, (10/6)

Seharusnya, lanjut mantan Dirut Bank BNI ini, pemerintah segera memutuskan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi sehingga perkara tersebut tidak lagi menjadi sentimen negatif pergerakan rupiah terhadap dolar AS. “Kewenangan kan ada di pemerintah dan sudah banyak masukan untuk kenaikan, seharusnya segera diputuskan,” tambahnya

Menurut Sigit, kepastian terkait kebijakan kenaikan harga BBM jelas membuat  pelaku pasar sulit mengambil keputusan strategis. “Pelaku pasar jadi susah membuat perencanaan,” ucapnya

Lebih jauh kata Sigit, disisi lain, akibat ketidakpastian ini, juga mempengaruhi rencana bisnis bank (RBB). Sebab RBB perlu direvisi jika dampaknya terhadap RBB lebih dari sepuluh persen. “Kalau dampaknya terhadap RBB di bawah sepuluh persen, kita tidak perlu revisi,” ujarnya

Sigit juga menambahkan, selama gejolak volatilitas rupiah meningkat karena ketidakpastian, biaya operasi moneter pasti menjadi mahal. Oleh sebab itu, pemerintah harus segera memberikan kepastian kenaikan harga BBM. “Minggu ini harus ada kepastian harga BBM,” ujar Sigit.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore tadi bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp9.822 dibanding sebelumnya (7/6) di posisi Rp9.787 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin tercatat rupiah bergerak melemah tipis menjadi Rp9.806 dibanding sebelumnya (7/6) di posisi Rp9.790 per dolar AS. **can