Said Abdullah Sapa Pedagang Kota Malang

MALANG-CALON Wakil Gubernur MH Said Abdullah blusukan ke Pasar Besar Kota Malang, Kamis (25/7). Kedatangan Said untuk mengetahui perkembangan harga di Kota Malang secara langsung.

“Saya ke sini untuk mendengar secara langsung keluhan dari para pedagang terkait lonjakan harga. Sebab, jangan sampai nanti, ketika saya paparkan visi misi saya di KPU Jatim, tidak berdasarkan kondisi faktual di lapangan,” kata Said kepada para wartawan.

Saat sekarang, kata Said, pedagang ditimpa kenaikan harga yang terjadi dua kali akibat kenaikan harga bahan bakar minyak dan kenaikan harga menjelang lebaran.

“Ini (kenaikan harga jelang lebaran dan imbas BBM) fenomena yang terus berulang. Terus terjadi karena kebijakan yang diterbitkan pemerintah  hanya menggunakan dasar ekonomi saja. Tidak mempertimbangkan kondisi sosial dan politik,” tandas Said.

Baca :  DKPP Optimistis Pilkada Serentak 2015 Akan Sukses

Said tiba di Pasar Besar sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Kedatangan Said disambut hangat para pedagang yang sebagian besar juga warga Madura. Said berdialog dan membeli sejumlah barang mulai dari kembang  api, hingga martabak.

Sejumlah pedagang tak asing lagi dengan nama Said Abdullah yang menyalonkan sebagai calon wakil gubernur. Malah, ada yang mengira Pak Said kerabat dari Gubernur Jatim era 70-an, almarhum Mohammad Noer.

“Saya dari Pamekasan Pak. Sukses ya Pak,” kata seorang pedagang sayur. Pedagang lainnya menyahut, “Keluarga dari Pak Noer ya, Pak.”Bukan. Tapi saya orang Madura, sama seperti Pak Nur,” jawab Said ditanya pedagang kelontong yang mengaku asal Sampang.

Baca :  Fahri : NTB Bisa Jadi Sentrum Integrasi Agama dan Negara

Said juga berdialog dengan anak-anak penjual martabak. “Saya kelas empat SD,” kata penjual martabak di pasar itu kepada Said Abdullah. “Masya Allah, klas IV SD sudah jualan. Jangan lupa belajarnya ya,” kata Said.

Pada kesempatan itu, Said kepada wartawan mengungkapkan upaya tidak sportif dilakukan Tim Pemenangan Karsa. Dimana Tim Hukum pasanga Karsa mendatangi  Bawaslu dan ‘menggugat’ adanya ikon Jempol di surat suara pasangan Bambang-Said.

“Itu artinya Karsa keberatan. Kalau memang keberatan, minta saja ke KPU agar pasangan Bambang-Said dicoret seperti juga Mbak Khofifah. Biar selesai, tidak buang-buang duit APBD untuk pilkada yang tidak sportif seperti ini,” kata Said.

Padahal, kata dia, di antara para calon telah bersepakat untuk melaksanakan proses demokrasi yang beretika. Ikon Jempol menjadi simbol yang disosialisasikan pasangan Bambang-Said kepada masyarakat Jatim.

Baca :  PDIP Gelar Deklarasi Bambang-Said di Blitar